SWR Meter sebenarnya bukanlah sebuah barang mewah yang harus dimiliki dengan pengorbanan uang dalam jumlah besar, kecuali kita membutuhkannya untuk requirement yang sangat ekstrim, misalkan pengukuran pada daya pancar yang sangat besar, presisi yang sangat ekstrim (nilai SWR sekian digit dibelakang koma), SWR meter lengkap dengan power meter yang presisi dan masih banyak lagi. Atau, kita membutuhkan untuk kepentingan profesional kita, misalkan produksi antenna dengan mencantumkan SWR rata-ratanya, membuat antenna broadcasting profesional, dan sebagainya.
Pada dasarnya seorang “AMATIR” (lawan kata dari “PROFESIONAL”) membutuhkan SWR untuk memastikan bahwa antennanya telah sesuai dengan transmitternya, dengan harapan transmitternya awet, pancarannya juga OK, serta gengsi donk masak punya antenna nggak matched … hehehe. Untuk keperluan tersebut, biasanya tidak dibutuhkan SWR meter yang sangat presisi, cukuplah gambaran kasar bahwa perbandingan SWR antennanya tidak lebih jelek dari 1:2, angka sekian digit dibelakang koma tidaklah begitu penting. Nah, kalau sudah seperti ini, kenapa kita harus investasi banyak di SWR meter, menurut saya lebih baik investasinya dibelokkan ke pesawat, supaya koleksinya makin banyak.
Namun ada beberapa Amatir Radio “Perfectionist” yang membutuhkan lebih dari itu. Nah seperti kata sebuah iklan rokok diluar sana … “HIDUP adalah PILIHAN” … jadi silakan anda menyesuaikan dimana posisi anda, dan lakukan pilihan.
Dalam artikel terdahulu, saya telah mengulas cara membuat/ modifikasi sebuah SWR meter dengan directional coupler yang terbuat dari seutas kabel coax RG-58 atau RG-8, dan mampu menghandle power lebih dari 200W. Selain itu, SWR meter tersebut bisa dipasang pada saat kita QSO, sehingga kita bisa melirik nilai SWR meter di kedua jarumnya selama QSO, menambah rasa nyaman dan aman kita maupun perangkat kita.
Artikel ini agak berbeda, namun tetap berbicara tentang SWR Meter, saya akan sharing pengalaman dalam membuat sebuah “QRP Pocket Size (V)SWR Meter”, yaitu SWR Meter dengan ukuran kecil, sehingga masuk dalam saku, cocok untuk digunakan pada power kecil (<5 W) atau QRP. Satu hal yang perlu anda ketahui, SWR meter ini hanya dipakai saat untuk mengukur SWR dan men-tune Antenna, tidak bisa dipasang pada transmission line selama anda QSO.
Karena ukurannya kecil, ya … banyak feature yang harus dikurangi, namun bila anda mau, anda bisa menambahkan feature di sana-sini sesuai selera, misalkan RF power meter atau penunjukan digital bila memungkinkan.
Rangkaian dasar dari QRP Pocket Size SWR Meter ini banyak dijumpai di text book (kuliah) dan NET, sebab rangkaian SWR ini merupakan salah satu rangkaian SWR primitif sebelum dikenal directional coupler seperti saat ini. Salah satu rangkaian yang dapat kita gunakan sebagai referensi adalah http://ludens.cl/Electron/swr/swr.html
Cara kerja rangkaian ini berdasarkan dengan jembatan wheatstone (wheatstone bridge) yang banyak digunakan dalam berbagai alat ukur dibidang instrument, lihat gambar disamping.
Arus yang mengalir pada rangkaian memenuhi persamaan sbb:
Im = In + Io … (i), dimana In adalah arus yang melalui lengan X dan Io melalui lengan Y.
Hubungan antara semua beban di lengan X maupun Y memenuhi persamaan sbb:
Zc * Zb = Za * Zd … (ii)
Dimana Z melambangkan impedansi, bila sumber tegangan adalah DC, maka beban merupakan besaran resistif murni (real), dan bila sumber tegangan adalah AC (misal RF), maka Z merupakan impedansi komplek (perpaduan antara impedansi riil dan imajiner).
Pada kondisi setimbang, maka arus yang mengalir pada uA meter (Ip) sama dengan nol, sebaliknya bila kondisi tidak setimbang, maka Ip akan tidak sama dengan nol (bisa positif atau negatif tergantung dengan kondisi ketidaksetimbangnya).
Dengan demikian, bila kita mengukur sebuah beban yang tidak diketahui besaran impedansinya (misal Za), sementara 3 beban lainnya (Zb, Zc, Zd) telah diketahui nilainya, maka kita dapat mengetahui nilai dari impedansi Za, melalui persamaan berikut:
Za = (Zc * Zb) / Zd … (iii)
Gambar disamping adalah rangkaian QRP Pocket Size SWR Meter yang saya coba untuk dibuat. Bila kita petakan ke dalam jembatan wheatstone di atas, maka kita peroleh persamaannya sebagai berikut:
Za = Zantenna (yang sedang kita ukur)
Zc = R1 // R2 = 50 Ohm
Zb = R5 // R6 = 50 Ohm
Zd = R3 // R4 = 50 Ohm
Berdasarkan persamaan (iii), bila Zantenna kita 50 Ohm, maka jembatan wheatstone akan setimbang, sehingga tidak ada arus yang lewat antara antenna ke D2, demikian juga tidak ada arus yang mengalir menuju uA meter M2. Secara fisik kita akan lihat bahwa jarum REFRECTION/REVERSE tidak akan defleksi (nyender ke angka 1), hal ini yang disebut dengan SWR = 1 (Matched). Sebaliknya, pada saat Zantenna tidak tepat 50 Ohm, maka jarum akan defleksi sesuai dengan SWR saat itu.
Rangkaian SWR meter ini sangat aman bagi TRX pada saat digunakan melakukan pengukuran antenna, dimana bila antenna dalam posisi OPEN (misal: lupa belum memasang antenna ke SWR meter), maka saluran transmisi dari antena masih diterminasi dengan beban 100 Ohm (yaitu R2//R3 serial dengan R4//R5), atau TRX melihat SWR saat itu adalah 1:2 (masih cukup aman, asal tidak lama-lama). Pada SWR meter yang menggunakan directional coupler, kejadian ini membuat SWR akan tak berhingga, sehingga berbahaya untuk TRX kita.
Sebaliknya, pada kondisi antenna tidak sengaja SHORT (misal: antenna masih kita buat, dan tidak sengaja kabel coax short atau terkena air), maka saluran transmisi akan diterminasi dengan beban 33.33 Ohm, yaitu (R2//R3 serial R4//R5) paralel dengan (R1//R2), atau TRX melihat SWR saat itu adalah 1:1.5 (aman buat TRX).
Pada kedua kondisi diatas, walaupun TRX hanya merasakan penunjukan SWR < 2, namun penunjukan jarum REFRECTION/REVERSE adalah tak berhingga, atau SWR = tak berhingga, karena bila kita lihat dari rangkaian, Arus FORWARD = Arus REVERSE.
Untuk meminimisasi space dan cost pada VSWR meter ini, saya melakukan modifikasi: yaitu hanya memakai satu buah uA meter untuk mengukur arus FORWARD maupun REVERSE, yang diaktifkan dengan sebuah saklar.
Cara menggunakan tool ini yaitu:
- Pasang TRX ke socket IN
- Pasang antenna ke socket OUT
- Pastikan power output tidak lebih dari 5 Watt (supaya resistor dalam jembatan nggak membara!!!)
- Pilih mode CW, AM atau FM
- Posisikan saklar ke atas (mengukur arus FORWARD)
- Atur potensiometer, sampai jarum defleksi penuh pada skala FORWARD
- Pindah saklar ke bawah (mengukur arus REVERSE)
- Baca pembacaan SWR, sesekali cek arus FORWARD untuk memastikan jarum tetap terdefleksi penuh di skala FORWARD.
Skala pada VSWR meter ini saya buat dari printed sticker paper, dimana skala saya design dengan menggunakan software gratisan khusus untuk membuat skala pada alat-alat ukur, yang bernama METER. Anda bisa mencari dan mendownloadnya di NET.
PERFORMANSI
VSWR meter ini telah saya coba untuk digunakan mengukur antenna 2M maupun HF, dengan hasil yang cukup memuaskan. Yang perlu kita perhatikan adalah, jangan mengukur pada kondisi power besar dan jangan terlalu lama, sehingga resistor pada jembatan tidak akan cepat panas, bisa jadi sampai terbakar.
IDE PENGEMBANGAN
VSWR meter ini dapat dikembangkan untuk mengukur power yang lebih besar dengan menggunakan resistor pada jembatan wheatstone dengan power yang besar. Di pasaran banyak dijumpai resistor dengan kekuatan sampai 2 Watt per-batang. Namun, jangan memilih resistor watt besar yang berbentuk kotak dan berwarna putih, karena tidak bersifat resistif murni, akibatnya tidak akan memiliki impedansi 50 Ohm pada RF.
Selain itu, anda juga bisa menggantikan uA meter dengan menggunakan beberapa buah LED untuk meringkas ukuran dan biaya, tentunya dengan adjusting tertentu.
OK, semoga bermanfaat dan selamat bereksperimen.
73 de YD1CHS







80 comments
Comments feed for this article
December 30, 2008 at 11:28 pm
Hendriono
Wah si bos ini Jago RF juga ya… sering-sering ah mampir, soalnya newbie yang super bodo dalam masalah RF… terus menulis bos…. tenang aku pasti mampir buat belajar… Maju terus RF (bener apa salah ya?)
January 2, 2009 at 7:13 pm
YD1CHS
Dear OM Hendriono …
Saya juga masih belajar OM, thanks atas dukungannya, semoga bisa memberikan manfaat positif, amin.
Regards
YD1CHS
January 10, 2009 at 2:45 pm
cholik
salam kenal…
siang bos, apa punya skema tuk bikin swr meter…
January 12, 2009 at 7:17 am
YD1CHS
Dear OM Cholik,
Yaa, saya punya cukup banyak OM, baik yang menggunakan directional couple resistif riil seperti pada tulisan ini, atau directional coupler jenis lain.
Namun, menurut pengalaman saya, directional coupler dengan menggunakan coaxial cable paling gampang dibuat, baik untuk HF maupun VHF.
Silakan download rangkaian SWR meter ditulisan saya sebelumnya yang berjudul “Homebrew SWR Meter”, pada gambar thumbnail click saja untuk memperbesar. Untuk mencarinya, masukkan saja keyword pencarian SWR, maka akan muncul disitu.
OK, kenapa harus beli mahal, kalau buat sendiri bisa … kan begitu OM Cholik. OK, have a nice experiment.
73 de YD1CHS
February 3, 2009 at 5:04 pm
yuli
maaf mas numpang tanya….
saya dari bandung
kira-kira dimana saya bisa mendapatkan alat ukur VSWR ya?
thax..tolong jawab..
bisa dikirim ke guriin_midokarasu@yahoo.com
February 5, 2009 at 7:10 am
YD1CHS
Dear OM Yuli,
Okay OM Yuli, alat ukur VSWR sangat mudah dicari di Bandung, biasanya dijual dalam 2 macam, yaitu HF dan VHF + UHF.
Untuk HF memiliki range frekuensi dari 0 – 30 MHz (mungkin including 50MHz), sementara VHF + UHF beroperasi untuk band 2M dan 70cm. Jadi silakan menyesuaikan dengan kebutuhan.
Harga sangat bervariasi, ada yang cuman 150rb, 500rb, sampai jutaan, memang dalam hal ini semboyan “You Get What You Pay” atau bahasa timurnya “Ono Rega Ono Rupa” berlaku disini. Saya tidak bisa secara fulgar menyebutkan merk apa yang bagus …
Untuk mencari/ membeli VSWR Meter bisa langsung ke Pasar Cikapundung (Lantai 2 ruko-ruko sisi kanan, kalau sisi kiri jualan amplifier).
Ada baiknya anda membaca salah satu artikel di blog ini untuk memodifikasi VSWR buatan pabrik dengan harga murah, namun ternyata performance-nya tidak memuaskan.
Selamat berburu … have a nice day !
Regards
YD1CHS
February 6, 2009 at 4:00 pm
yuli
oK.. thx a lot 4 your helpful information…
Tapi jangan panggil om dunks
aku kan cewe T,T
sekali lagi makasih banyak ya mas ^,^
February 10, 2009 at 7:10 am
YD1CHS
Dear Yuli,
Sorry, hehehe, OM adalah sapaan khas para Radio Amatir yang singkatannya adalah Old Man yaitu bahasa barat sono untuk menghormati lawan bicara kita, kalau di Indonesia kebalik ya, kalau disebut Old Man mungkin malah kesinggung … hehehe, namun ya itulah, OM sudah sangat umum digunakan disaentaro jagat Amatir Radio International.
OK dech, kalau gitu saya panggil Teh Yuli dengan YL atau XYL, YL untuk single dan XYL untuk yang udah married …
Have a nice day !
Best Regards
YD1CHS
February 11, 2009 at 4:16 pm
yuli
ow.. gitu toh…hehehe
jadi OM itu singkatan heheh
baru tau aku
yup makashi yak
February 12, 2009 at 6:51 am
YD1CHS
Dear Yuli,
Yuup …
Regards
February 12, 2009 at 10:05 am
YD3RLU
wah .. inilah salah satu pendekar homebrew…. salut OM.
hemmy – YD3RLU
February 12, 2009 at 10:09 am
YD3RLU
oh ya.. ada yang lupa ..kalo boleh saya minta skema, gbr PCB dan file hex untuk LC meter dan frek counter OM. coba-coba blajar PIC.. soalnya Atmel 89C51 sdh ga musim..
maksih sebelumnya ..
hemmy – YD3RLU
Probolinggo – Madiun pp
February 12, 2009 at 11:05 am
YD1CHS
Dear OM YD3RLU,
Pendekar Homebrew ? … hehehe bisa aza, nggak gitu OM, saya yakin OM lebih huebat dech …
Okay, saya kirim ke email OM, silakan bereksperiment & have a nice day !
Regards
YD1CHS
February 12, 2009 at 11:58 am
YD3RLU
OM cholis terimakasih. kirimannya sdh saya terima. kalo ada kesulitan boleh ya saya konsul lagi…:)
btw, antenna 80m-nya cepet dinaikin OM. biar bs QSO dg homebrewer lain di 3.750 Mhz.
Hemmy – YD3RLU
February 13, 2009 at 10:16 am
YD1CHS
Dear OM YD3RLU,
No Problem OM, ya InsyaAlloh akan saya naikkan antenna bonsai 80M, hehehe …
Regards
YD1CHS
February 17, 2009 at 3:35 pm
andy
Hidupp Homebrewww !!! nice website !
maju trus om !!
de YC0MVP
February 18, 2009 at 12:47 pm
sigit aryono/yc2kej
Hallo OM,
Kabar baik….saya mo tanya saya punya transceiver FT 180 A sering ngadat, baru transmit plus minus 5 menit dah ilang signal rfnya, tak cek ke bagian relay2 tx rx gak masalah, tak cek buffer sampai final beres, trus tak coba bagian ALCnya……tak test komponen beres gak ada yang rusak, tak utak atik sampai sekarang kadang bisa transmit agak lama tapi lama………lama ya loyo lagi, mungkin ada pengalaman FT 180 ngadat TXnya idem punyaku………….bisa dong kasih saran. thanks berat
Nb; salam buat teteh YuLi, wah saluut dech, penggemar RF juga rupanya.
sigit/YC2KEJ email : yc2kej@gmail.com
February 18, 2009 at 1:24 pm
dot
softwarenya yang buat gambar skala meter namanya pa? download nya dimana?
February 23, 2009 at 8:14 am
YD1CHS
Dear OM Andy YC0MVP,
Thanks atas kunjunga di blog ini.
Regards
YD1CHS
February 23, 2009 at 8:15 am
YD1CHS
Dear OM Sigit YC2KEJ,
Sudah saya komentari di artikel FT-180A, muadah-mudahan membantu.
Regards
YD1CHS
February 23, 2009 at 8:23 am
YD1CHS
Dear OM DOT,
Silakan download di http://www.tonnesoftware.com/meter.html
Regards
YD1CHS
June 9, 2009 at 5:13 pm
Ragilt
OM nanya lagi nih QSO artinya apa sih OM..? pusing kepala nih…
oh iya kalau mau belajar PIC alat buat nulis ke IC nya pake apa ..?
USB programmer AVR programmer ..?itu buat nulis ke PIC..?
trus ada lagi OM, nanya lagi…kalau mau bikin pallete FM dengan BLF 278 …alat alatnya / komponennya ada di cikapundung semua gak ya..? atau jaya plasa..? kalau ada skema pallete menggunakan BLF 278 sharing dong om ke email saya..
saya dirumah ada transistor 2sc2782 dua biji…nyoba di push pull..cuman berhubung referensi nya gak lengkap alhasil gak ada hasil alias jalan ditempat… niatnya pengin mendapatkan output rf yang lumayan …buat kejar kejaran di Frek 76Mhz…alias ngebrik..eh malahan output cuman ngangkat 3 watt..?? kalau ada cara 2 ngepush pull kirim juga ya OM…oh iya om …kalau mau menggabungkan 2 transisor katanya ada yang namanya splitter dan combiner atau apa tuh gak mudeng…dan katanya butuh kabel teflon..? di cikapundung ada gak ya ..?
maaf OM..saya selalu merepotkan…
June 9, 2009 at 7:01 pm
YD1CHS
Dear OM Ragilt,
Saya akan coba meresponse beberapa question OM, mungkin nanti ada Rekan lain yang menambahkan.
1. Apa itu QSO ?
QSO merupakan salah satu singkatan yang disebut dengan Q-code yang biasa digunakan Radio Amatir International dalam rangka menghemat data yang dikirimkan, ide munculnya QSO karena komunikasi yang paling terkenal dengan menggunakan mode CW atau Morse Code, pasti OM memiliki pengalaman mengirim pesan melalui telegram pada kisaran tahun 80-an, kan di sekolah juga diajari cara menyingkat, itulah analoginya. Cuman Q-code ini standar secara International, sehingga kita bisa berkomunikasi dengannya international-wide. ORARI menggunakan Q-Code dalam komunikasinya.
Ok, sekarang apa sih arti QSO ? QSO bagi penanya berarti Can you communicate with … atau bisakah saya berkomunikasi dengan …, sementara bagi penerima/ penjawab berarti I can communicate with … atau saya dapat berkomunikasi dengan …
Mudahnya, artinya QSO adalah berkomunikasi !
Untuk lebih lengkapnya mengenai Q-Code silakan melihat di http://www.orari.or.id/
Senada dengan Q-Code, para CB-er (Citizen Band-er), di Indonesia adalah RAPI, mengembangkan Ten-Code (10-Code) untuk menyingkat ungkapan-ungkapan dalam berkomunikasi, misalnya 10-25 artinya sama dengan QSO. Untuk lebih jelasnya silakan merefer ke http://www.rapi12diy.com/
2. Cara menulis ke IC PIC ?
Perlu dimengerti dulu urutan pemrogram ke IC mikrokontroler sebagai berikut (refer to PIC):
a. Kita membuat firmware/ program bisa dengan menggunakan bahasa high level seperti PIC Basic, PIC C, PIC Pascal, dll, atau bahasa menengah (mid-range) misal MPLAB biasanya di PIC filenya berextention *.asm.
b. Selanjutnya kita melakukan compiling dan linking dengan program compiler & linker, misal PIC C, PIC Basic, PIC Pascal, MPLAB, yang mengubah bahasa tingkat tinggi atau menengah menjadi bahasa mesin berbentuk digit hexadecimal, biasanya extension filenya *.hex
c. Selanjutnya dengan programmer (misal El-Cheapo, K-128, PIC Lite, dll) kita menuliskan ke Program Memory IC. Untuk keperluan ini saya menggunakan homebrew El-Cheapo dan USB K-128.
d. Nah IC microcontroller siap untuk dirakit dan bekerja.
Microcontroller terdapat berbagai jenis, diantaranya PIC, ATMEL AVR dan sebagainya, jadi tidak bisa dicampur-campurkan dalam pemrogramannya.
3. Palet untuk FM ?
Wah saya nggak bisa berkomentar banyak dengan hal ini, soalnya jarang bereksperimen disini, mungkin rekan lain bisa memberikan komentar.
4. Spiltter dan Combiner ?
Ada beberapa cara untuk membuat sebuah RF Linear Amplifier, salah satunya yaitu dengan menggunakan class A-B atau konfigurasinya Push-Pull. Konfigurasi ini banyak digunakan karena memiliki efisiensi besar, the third IM bagus, serta cocok untuk QRO atau power besar, karena bisa mengkombinasikan beberapa BJT Transistor atau MOSFET Transistor power menengah menjadi satu.
Nah terkait dengan push-pull, kita bisa menggabungkan beberapa rangkaian push-pull menjadi satu dalam rangka memperoleh keluaran lebih besar. Caranya dengan menggunakan Splitter disisi input dan Combiner disisi output.
Splitter berfungsi untuk memecah siklus sinyal positif ke rangkaian push-pull pertama, dan siklus sinyal negatif ke rangkaian push-pull kedua.
Combiner berfungsi sebaliknya, menggabung siklus sinyal positif dan negatif sehingga keluaranya utuh kembali.
Nah usaha lain untuk lebih membuat power nendang, yaitu dengan menggabungkan/memparalel beberapa transistor dimasing-masing rangkaian push-pull lebih dari satu, namun praktek ini hanya cocok untuk MOSFET, karena ia memiliki impedansi input yang sangat besar (orde K-ohm), sehingga tidak berefek ketika diparalel. Untuk band HF, jenis IRF510 bisa digunakan, dengan beberapa biji IRF520 dalam konfigurasi Combined Push-Pull plus paralel, bisa diperoleh power sampai 500W atau lebih, dimana cost efficiency-nya cukup bagus, karena sebiji IRF510 hanya dibandrol sekitar Rp.5000-an saja.
Nah, mengenai kabel teflon, saya kira digunakan karena dia tahan terhadap panas, karena dengan power sebesar itu, anggap saja efisiensinya 80% dari 1000W, berarti ada rugi-rugi daya yang disipasikan berupa panas sebesar 20% atau 200W, yah tahu sendiri kan, setrika listrik kita kan 350W, yah … begitulah … hehehe! Makanya, dalam sebuah RF Power Amplifier terutama yang ber-power gedhe wajib dilengkapi dengan exhaust fan, untuk membebaskan panas, sehingga perangkat bisa terus bekerja pada kondisi linearnya dan melindungi transistor final kita dari bahaya hangus …
Tapi, karena kita adalah amatir bukan profesional, sugestion saya: nggak perlu terlalu pusing dengan hal-hal demikian, justru membuat kita enggan untuk bereksperimen, buat homebrewer tidak ada rotan akarpun jadi …
Demikian OM, jangan khawatir, saya nggak merasa repot untuk mereplay semua response OM …
Regards
YD1CHS
June 11, 2009 at 4:58 pm
Ragilt
makasih banyak OM atas penjelasannya…langsung menuju ke situs referensi di http://www.rapi12diy.com dan http://www.orari.or.id
June 11, 2009 at 7:26 pm
Ragilt
Nah usaha lain untuk lebih membuat power nendang, yaitu dengan menggabungkan/memparalel beberapa transistor dimasing-masing rangkaian push-pull lebih dari satu, namun praktek ini hanya cocok untuk MOSFET, karena ia memiliki impedansi input yang sangat besar (orde K-ohm), sehingga tidak berefek ketika diparalel. Untuk band HF, jenis IRF510 bisa digunakan, dengan beberapa biji IRF520 dalam konfigurasi Combined Push-Pull plus paralel, bisa diperoleh power sampai 500W atau lebih, dimana cost efficiency-nya cukup bagus, karena sebiji IRF510 hanya dibandrol sekitar Rp.5000-an saja.
OM…gmana cara mengcombine IRF520..?share dong skema ma LayoutPCBnya..syukursyukur sama cara ngerakitnya…he he ..pengin power nendang nih..!
nyari transistornya di cikapundung..? buat FM bisa .>?
June 12, 2009 at 6:31 am
YD1CHS
Dear OM Ragilt,
Kalu urusan HF mungkin MOSFET IRF520 masih bisa OM seperti penjelasan saya diatas, namun kalau untuk band VHF (maksud OM Ragilt dengan FM disini saya artikan sebagai VHF) sudah out of spec, harus menggunakan jenis Transistor lain. Biasanya, untuk transistor penguat RF, makin tinggi frekuensi cut-off-nya maka harganya makin mahal juga, … ini tantangannya.
Nah, kalau urusan VHF keatas, saya tidak begitu “well informed”, mungkin rekans lain yang kebetulan singgah disini bisa menambahkan.
Regards
YD1CHS
June 12, 2009 at 2:50 pm
Ragilt
oh..? gitu ya OM..? maklum gaptek nih di dunia FM.tapi masih ada sedikit asa nih …buat belajar… gpp lah mulai dari nol juga…sip…kapan kapan mau ke cijanitri aja ah…biar dapet penjelasan langsung dari OM.asal om nya Gak keberatan sih…
June 16, 2009 at 9:56 am
Dirman de yc1rmn
Good luck ya..Om
Blog nya bagus & banyak ilmu home brew yang dapat di serap sama rekan-rekan maupun kami pribadi.
Salam kenal… sampai ketemu di 80m
73 de YC1RMN – Jendral
June 18, 2009 at 1:18 pm
YD1CHS
Dear OM Sudirman YC1RMN,
Thanks telah singgah diblog sederhana ini.
Regards
YD1CHS
July 4, 2009 at 10:58 am
joesoeptiloe
Salam kenal om, saya pemula om mau tanya di SWR kan terdapat angka misal 1:1.5 angka 1 darimana?atau apa itu ketetapan yang ada di SWR yang ga bisa dirubah,angka 1.5 darimana? Karena saya awam saya coba seting antena pake HT dengan SX200 SWR di cal dulu,angka yang didapat selalu sama FWD dan REF nya,kenapa?tolong penjelasanya.Terimakasih.
July 4, 2009 at 4:43 pm
YD1CHS
Dear OM Joesoeptiloe,
NIlai SWR dapat diperoleh dengan rumus berikut:
SWR = [1 + Rc] / [1 - Rc]
Dimana:
RC = | [ZL - Zo] / [ZL + Zo] |
ZL = impedansi input antenna (beban)
Zo = impedansi saluran transmisi (coax, feeder, dll)
Bila ZL atau Zo merupakan bilangan imajiner atau khayal, maka ZL atau Zo ini merupakan magnitudo dari bilangan tersebut.
Dari persamaan tersebut, RC memiliki nilai antara 0 s/d 1, bila RC = 0, maka SWR = 1 (Matched dimana impedansi antenna sama dengan impedansi saluran transmisi) dan bila RC = 1 maka SWR = tak berhingga (Tidak Matched Banget).
OK, saya yakin telah menjawab pertanyaan OM, kenapa SWR selalu nilai terkecilnya 1.
Nah lalu 1:1.5 itu sebenarnya apa?
Adalah cara penulisan yang sedikit berbeda, artinya sama dengan SWR = 1.5. Jadi ketetapan SWR ya seperti itu, nggak bisa dirubah selama belum ada teori atau postulat lain yang lebih kuat …
Untuk menggunakan alat ukur SWR dengan 2 jarum FWD dan REV, caranya jarum FWD dibuat defleksi maksimum, nah jarum di REV akan menunjukkan SWR berapa? Bila jarum FWD dan REV memiliki defleksi yang sama besar, maka SWR = tidak berhingga (tidak matched sama sekali).
Untuk kepentingan radio amatir, SWR atau VSWR < 1.5 sudah cukup memadai dan baik.
Demikian OM, semoga membantu.
Regards
YD1CHS
August 14, 2009 at 11:12 am
NGAHADI
Kalo tmpt kme di sintang OM tuch singkatan Orang Melawi,,,,he,,he,,!ehm….tlg aku donk,mau cri skem swr kok rd dlu gx nemu2,,plis deh spa aja yang punya skema swr lengkap kirimkan ya via email ke bhbistarahappy@gmail.com.aku tunggu neh sambila itung2 cari kenalan gto.sbl dan sesudah so pasti thank”s bngt.
August 14, 2009 at 11:12 am
NGAHADI
Kalo tmpt kme di sintang OM tuch singkatan Orang Melawi,,,,he,,he,,!ehm….tlg aku donk,mau cri skema swr kok dri dlu gx nemu2,,plis deh spa aja yang punya skema swr lengkap kirimkan ya via email ke bhbistarahappy@gmail.com.aku tunggu neh sambil itung2 cari kenalan gto.sblm dan sesudah so pasti thank”s bngt.
August 14, 2009 at 1:20 pm
YD1CHS
Dear OM Ngahadi,
Diblog ini schematicnya bisa didownload, click kanan lalu save as … udah dech dapat schematicnya, namun rangkaian directional coupler ini masih fit untuk frekuensi HF, sementara VHF sedikit deviated, namun untuk kepentingan amatir saya kira cukup dech. Lalu power yang masih aman untuk rangkaian directional coupler ini < 150W, saya sampai saat ini masih setia menggunakannya, no problem …
Regards
YD1CHS
August 31, 2009 at 11:23 am
Daryono
Halo OM Cholis , apa kabar?
Wah menarik sekali SWR yang anda buat ini , soalnya sensornya lain dari yang lain.Biasanya kan sensornya pakai batang paralel , atau pakai PCB atau juga toroid. Kelemahan sensor2 tsb adalah sangat terpengaruh oleh frekuensi.Lha yang ini pakai jembatan resistor. Kalau resistornya R murni wah bisa untuk ngukur dari HF sampai UHF….. Walaupun ada kelemahannya (nggak mampu untuk power besar) saya pengin bikin juga …. O ya kalau dipasangkan dengan signal generator jadilah SWR analyzer…..soalnya sensor ini kan tidak memerlukan daya yg besar , dalam hal ini kekurangannya menjadi keunggulan.
August 31, 2009 at 12:12 pm
YD1CHS
Dear OM Daryono,
Benar yang OM sampaikan, bila digabung dengan VCO dan Frekuensi counter, maka jadilah sebuah antenna analyzer sederhana, hehehe …
Rangkaian SWR dengan jembatan wheatstone ini hanya cocok untuk mengukur arus kecil, paling-paling hanya sampai 2 watt, dengan syarat resistornya diganti yang agak gedhean.
Sampai saat ini, SWR meter kecil ini masih suka saya pakai untuk menala antenna system HF dan VHF, yahhh … tidak terlalu mengecewakan hasilnya, sebab komponenya juga apa adanya … hehehe
Thanks OM Daryono sudah mampir … have a nice day !
Regards
YD1CHS
September 2, 2009 at 4:42 pm
Jay
Ok bos rangkaiannya tak coba,hasilnya lumayan
September 3, 2009 at 7:13 am
YD1CHS
Dear OM Jay,
Syukur lah kalau gitu, sebarluaskan kepada yang membutuhkan OM … hehehe, kayak pembagian sembako aza …
Regards
YD1CHS
September 3, 2009 at 9:40 pm
Jay
Ok bos tak sebarkan ,rangkaian swr ini bisa gak dipakai untuk daya 12 watt keatas?trima kasih banyak
September 3, 2009 at 10:19 pm
Jay
Sori boss mengganggu,q kepingin membuat swr yg dari seutas kabel coaxial,tetapi q masih bingung lihat skemanya ,kabel anyaman luar tidak usah dihubungkan keground?
September 4, 2009 at 7:26 am
YD1CHS
Dear OM Jay,
Namanya juga QRP jadi yaa untuk daya < 10 Watt OM. Kuncinya untuk memperbesar kekuatan power SWR ini yaitu R1 s/d R6 yang sebelumnya tertulis hanya 1/2 watt diganti dengan resistor dengan watt gedhe, saya pernah dapat yang 2 watt, sehingga nggak cepat panas bila dibebani RIG dengan daya 10W sambil tuning-tuning antenna gitu lho … hehehe.
Namun yang perlu digarisbawahi, jangan menggunakan resistor yang bukan carbon, misalnya yang bentuknya kotak warnanya putih, suka dipakai untuk resistor shunt di penguat daya audio OCL, atau suka dipakai di PSU, sebab pada frekuensi tinggi (HF) resistor tersebut tidak lagi murni impedansinya 50 Ohm riil, sehingga pembacaan SWR tidak lagi akurat.
Demikian, and have a nice day.
Regards
YD1CHS
September 4, 2009 at 7:38 am
YD1CHS
Dear OM Jay,
Tentang SWR meter dengan directional coupler seutas kabel coax, memang serabut groundingnya tidak dihubungkan ke ground. Ground antenna dilewatkan via box logam SWR Meter, atau bila nggak pake box yaa dilewatkan dengan kabel, yang menghubungkan soket IN dan OUT ASWR meter bagian ground.
Nah lalu apa fungsinya serabut ground coax tersebut, ya tadi sebagai elemen untuk melakukan sampling sinyal RF yang melalui inner coax, karena sinyal RF itu juga ada disekitar kabel serabut, maka itulah yang disampling. Jadi, walaupun kabel tersebut merupakan kabel serabut ground coax, namun sekarang posisinya sebagai kutub positif signal hasil sampling, relatif terhadap ground sebenarnya yang kita lewatkan body/ box logam SWR meter.
Karena kita tidak mungkin mengukur sinyal RF dengan uA meter DC, maka sinyal RF tersebut disearahkan dulu dengan sebuah diode, kemudian supaya tegangan keluarannya rata (DC) maka ditambahkan sebuah resistor dan capacitor sebagai rangkaian charge-discharge, akhirnya tegangan ini yang terukur di uA. Kedua sample depan dan belakang diambil sebagai representasi arus maju (forward) dan mundur (reversed) dalam saluran transmisi.
Kondisi antenna disebut matched (SWR=1), bila arus mundur (pantul dari antenna ke RIG) adalah NOL.
Demikian semoga memberikan ide …
Regards
YD1CHS
September 4, 2009 at 12:31 pm
Jay
Tanks banyak atas informasinya,maklum baru nimbrung disini jadi ketinggalan informasi,see you letter
September 4, 2009 at 3:05 pm
Jay
Bos dioda R2M termasuk jenis germanium apa silicon?trimakasih.
September 7, 2009 at 6:52 am
YD1CHS
Dear OM Jay,
Saya nyoba nyari datasheet R2M masih belum ketemu yaa, yang jelas kalau aruy majunya sekitar 0.7V berarti ia silikon, kalau germanium dibawah angka tersebut.
Regards
YD1CHS
September 7, 2009 at 12:24 pm
Jay
Ok.tanks banyak,klau boleh tahu ,ukuran panjang antena amatir fm pakai tubing almunium berapa?dan spasi antara radiator&ground untuk anten vertikak ,tanks om
September 8, 2009 at 4:34 am
YD1CHS
Dear OM Jay,
Asumsi saya menggunakan antenna ground plane 1/4 lambda, saya biasanya menggunakan pendekatan sebagai berikut:
Lambda = 300 / f(MHz) … (i)
Panjang radiator vertical = 0.244 x Lambda … (ii) –> rumus dari ARRL
Panjang radial Ground = sedikit lebih panjang panjang radiator vertical, ambil saja 1 cm lebih panjang, jumlah ground system bisa 3 atau 4 buah, dengan sudut 90 derajat terhadal radiator vertical.
Tidak ada ketentuan pasti tentang jarak, namun yang jelas radiator vertical harus diatas ground radial, sebab ground radial berfungsi sebagai reflector bagi radiator vertical. 1 cm kira-kira sudah cukup.
Lalu untuk kepentingan matching adjusting, vertical radiator kalau bisa dibuat seperti antenna telecopic, sehingga bisa ditarik-ulur.
Antenna ini bisa langsung difeed dengan coaxial 50 Ohm (RG-58 atau RG-8) sebab impedansinya sudah mendekati 50 ohm dan distribusi arusnya un-balanced. Namun boleh juga ditambahin choke-balun untuk mengisolasi antara saluran transmisi dan antenna, sehingga sinyal RF melihat saluran transmisi bukan sebagai bagian radiator antenna, caranya:
Sebelum masuk ke antenna, coax digulung dengan diameter kira-kira 20-30 cm, sebanyak 10-20 lilitan, namun setelah itu adjust kembali antenna untuk memperoleh penunjukan SWR terbaik.
Regards
YD1CHS
September 9, 2009 at 3:35 am
Kurniawan
Saya juga coba membuat SWR saku ini. Saya coba pake HT. Tapi hasilnya? Jarum Forward tak bergeming sedikit pun. Saya utak atik lagi. Saya baca lagi skemanya lalu saya bandingkan dengan melihat gambar SWR saku yang mas buat.
Saya bingung, koq di gambar saya lihat ada ElCo.. (Kapasitor elektronik) smentara di skema tidak ada.
Mas, bisa kirim skema asli yang mas buat? via email ya mas
September 9, 2009 at 4:42 am
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Kehadiran kapasitor elco disitu tidak wajib, elco tidak mempengaruhi hasil pembacaan. Elco disini saya tambahkan untuk membuat pergerakan jarum SWR (terutama saat discharge) tidak serta merta turun kebawah, namun secara pelan/ gradual turun, dilihat lebih enak – slow motion gitu loh.
Rangkaian yang saya buat persis seperti gambar diatas, tidak ada tambahan lagi. Saya disini memakai box plastik, seharusya dengan box logam hasil akan lebih OK “Caeng” … karena pakai plastik … jangan lupa untuk menghubungkan ground masing-masing socket IN dan OUT menjadi satu, terlihat pada foto ground saya jadikan satu. Kalau ini kelupaan, yaa nggak akan bekerja.
Sebenarnya cara sederhana melakukan pengecekan rangkaian ini gampang OM, coba ikuti langkah berikut:
1. Mengecek socket forward (IN), beri tegangan DC pada socket IN, positif ke inner socket negati ke ground socket, yaa … tegangan diatur jangan besar-besar dengan arus kecil saja, misal tegangan 4.5 volt arus 500mA, pakai adaptor kecil atau battery, atur potensio meter, kedua jarum harus bisa bergerak dengan defleksi yang sama persis.
2. Mengecek socket reverse (OUT), sama persis prosedurnya, cuman sumber tegangan dihubungkan ke socket OUT, kedua jarum juga harus bergerak dengan defleksi yang sama persis.
Untuk memastikan semua titik ground terhubung dengan sempurna, dengan bantuan multimeter lakukan pengecekan seluruh hubungan apakah sudah benar, bila ada satu saja koneksi yang nggak terintegrasi … saya pastikan rangkaian tidak bekerja.
Demikian OM Kurniawan, rangkaian ini sederhana, sehingga dapat dites dengan prosedur sederhana pula.
Have a nice day.
Regards – Cholis YD1CHS
September 9, 2009 at 11:08 pm
Kurniawan
Ya ampun…. bener2 “bego” saya. hehehe… pantas ndak mau jalan, wong grounding di Socket IN dan OUT nya nggak nyambung seperti yang mas bilang… Thanks banget sekali lagi…. setelah saya coba barusan…, beneran jalan..hehehe….
September 10, 2009 at 7:44 am
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Hehehe … memang kejadian yang OM alami sering sekali terjadi, kadang sayapun mengalaminya.
OK, well done …
YD1CHS
September 11, 2009 at 12:53 am
Kurniawan
Nah…sekarang sukses OM. Karena body nya dari bahan plastik, saya selipkan saja keping aluminium dari loyang buat bikin kue (resikonya istri gerutu…hi hi), yang menghubungkan body socket IN dan OUT.
Saya nurutin saran mas, di chek pake PS 4,5 watt hasilnya OK.
Lalu saya mulai tes sungguhan pake HT. Pertama pake Alinco DJ-195. OUT nya sana konek ke antena Hygain. Jarum forward gerak dikit, yang reverse diam. Saya cabut koneksi ke antena, lalu saya tekan PTT. Hasilnya, jarum forward dan reverse bergerak searah ke kanan.
Dengan hasil kayak gitu, apa sudah OK, OM? Koq gerak jarumnya sedikit saja (cuma satu strip)? Apa karena pake HT (Bukan RIG)? Jika emang HT sangat kecil watt nya, apa yang mesti dimodif lagi, supaya bisa lebih sensi buat ngukur pesawat jenis HT?
Thanks..
September 11, 2009 at 1:56 am
Kurniawan
O ya mas..sekalian saja dech saya mau belajar bikin antena. Saya punya tubing aluminium bekas antena Ring-O milik kakak saya yang jatuh tertiup angin. hehehe. Beberapa radialnya patah, sehingga tdk dapat digunakan lagi.
Saya berfikir, lumayan nih jiga dibuat antena ground plen 5/8 lamda. Saya searching di google, cara bikinya, tapi belum nemu yang jelas dan aplikatif. Cuma teori dan gambar yang kurang detil.
Mohon dijelasin ya mas… terutama cara bikin dan pasang koilnya (kata teori, perlu pake koil) Berapa lilitan, dan ditaping sebelah mana…gitu lho mas…
September 11, 2009 at 2:06 am
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Hehehe … saya juga pernah mengambil salah satu baskom plastik istri saya di dapur untuk melarutkan PCB.
Saya perlu klarifikasi lagi nih, terdapat beberapa titik ground yang semuanya harus terhubung, bukan hanya ground kedua socket IN dan OUT, pastikan semua yang terhubung ground menyambung jadi satu (integrated), misalkan kaki ground socket IN, OUT, VU meter, C1, C2, C4, R5, R6, Potensio dual gang P1A dan P1B. Pastikan dicek dengan AVO meter semuanya terhubung dengan sempurna.
Perlu lagi saya klarifikasi, pada saat socket OUT terhubung ke antenna, pastikan potensiometer diputar-putar untuk mendapatkan jarum forward maksimum. Kalau prosedure tersebut memang sudah dilakukan, namun masih tetap penunjukan kecil, berikut beberapa alternatif improvement yang bisa dilakukan:
1. Kurangi nilai R7 dan R8 lebih kecil dari 15K, namun jangan kebablasan terlalu kecil. Sebab bila terlalu kecil dapat mempengaruhi kondisi kesetimbangan jembatan wheatstone-nya, usahakan tetap diatas 2K misalnya. Pengurangan nilai kedua resistor ini diharapkan akan memperbesar arus yang masuk ke VU Meter.
2. Diode D1 dan D2 yang OM pakai tipe apa Silicon (misal 1N4148), Germanium (misal 1N60, OA80) atau Schottky. Ketiga diode tersebut memiliki besar arus maju yang berbeda-beda. Maksudnya tegangan maju adalah, tegangan minimum yang diperlukan oleh diode untuk menembus barrier antara Anode ke Katode. Biasanya untuk silicon dibutuhkan sekitar 0.7V, germanium sekitar 0.2V sementara Schottky lebih kecil dari itu. Artinya kalau kita membutuhkan sensitivitas lebih baik, maka kita perlu menggunakan diode dengan tegangan maju sekecil mungkin. Kebetulan saya menggunakan jenis germanium, saya lupa tipenya, namun saya ingat diode tersebut saya beli di Jalan Peneleh Surabaya – dekat Jembatan Merah masuk ke kanan jalannya menyusuri sungai, bekas project pembuatan efek gitar saya beberapa tahun silam, saya kebetulan hanya punya beberapa (kurang dari 10 buah).
3. Pastikan VU meter memiliki range pembacaan arus sangat kecil, misalkan dalam rangkaian digunakan 100uA, coba OM mencari VU meter dibawah itu, misal 50uA kalau ada.
4. Pastikan bahwa VU meter yang OM pakai (dibeli dari toko) benar-benar uA, bukannya uV. Maksudnya benar-benar dikondisikan sebagai pengukur arus, bukan pengukur tegangan. Sebab ada beberapa jenis dijual sebagai pengukur tegangan, biasanya telah ditambahkan rangkaian khusus, misalkan resistor shunt, pastikan tidak ada rangkaian tambahan tersebut di VU meter yang dipakai disini.
5. Cara terakhir ini adalah cara pamungkas, bila ternyata sinyal dari HT masih sangat kecil dan tidak mampu mendefleksi jarum forward sampai maksimum, terpaksa jalur tepat sebelum masuk ke uA ditambahkan sebuah penguat arus sederhana, misalkan dengan OP-Amp atau 1 Transistor. Namun, rangkaian SWR membutuhkan catuan DC, tidak lagi praktis dan ringan. Nah, kalau ternyata improvement ini tetap ingin dilakukan, pastikan catuan DC ke OP-Amp, serta inputan OP-Amp dilewatkan sebuah ferit-beat untuk menghalangi masuknya RF bocor kejalur tegangan, input OP-Amp atau kaki basis transistor, sehingga tidak terjadi apa yang biasa Rekan AR katakan “Jarum VU meter KESURUPAN” … hehehe.
Sebagai tambahan info sharing, SWR meter yang saya buat dapat saya gunakan untuk mengukur keluaran HT Suicom 5 Watt, dimana jarum forwardnya bisa defleksi penuh ke kanan, bahkan saya harus memutar potensiometer agak ke kiri, untuk mendapatkan posisi jarum forward pas maksimum, artinya dengan daya 5 Watt rangkaian ini sudah cukup mampu bekerja pada kondisi normalnya. Kalau HT Suicom tersebut bisa diset keluarannya, 2.5 atau 5 Watt, mungkin HT yang OM pakai bisa diset juga outputnya, jangan-jangan memang terlalu kecil outputnya.
Demikian OM, dengan makin banyaknya problem dalam pembuatan sebuah rangkaian, maka saya yakin knowledge OM tentang rangkaian ini makin mantap … hehehe.
Demikian have a nice experiment …
Regards
Cholis YD1CHS
September 11, 2009 at 2:15 am
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Rupanya dini hari ini OM juga Online, terbukti jam penunjukan di response sama-sama mendekati jam 2 pagi, tanggung nunggu sahur nich … hehehe.
Untuk antenna silakan merefer ke tulisan tentang antenna yang juga saya tulis disini, ngomong-ngomong 5/8 lambda untuk 2M yaa …
OM pernah mendengar software antenna designer MMANA GAL, software ini gratis-tis, dapat dipakai untuk mendesign berbagai macam antena, nah hitungan berapa besar induktansi lilitan penyesuai impedansi bisa diberikan disini.
Demikian, regards.
Cholis – YD1CHS
September 11, 2009 at 10:46 pm
Kurniawan
Horeee…SWR saku buatan pertamaku berjalan…thank’s banget Mas Cholis atas info dan arahannya.
Diode nya saya ganti dengan diode AA119 yang tadinya buat digunakan untuk SWR yang directional coupler. Tapi mo konfirm balik, bener nggak nih langkah saya?
Yang jelas, sensinya nambah.
Tinggal cara baca di VU display nya. Saat ini saya gunakan feeling aja. Kalo jarum Foward dan Reverse bergerak berlawanan, berarti OK, kalo searah berarti nggak macth. (Belum PD nih…bener nggak feeling ku ini? hehehe)
Ketika saya coba pake DJ-195, Jarum foward bergerak mendekati maksimum. Jarum reverse pun awalnya bergerak searah, tapi berhenti tepat ditengah-tengah skala. Apa artinya tuh mas?
Kalo feeling saya masih salah, gimana deh bikin skala ukuran buat di VU display nya?
Bener deh mas, semakin pusing, semakin asyik..hehehe
September 12, 2009 at 4:56 am
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Pertama selamat telah berhasil dalam experimentnya, nah untuk membuat skala SWR saya menggunakan program gratisan dari Internet yaitu di http://www.tonnesoftware.com/meter.html
Skala antara jarum forward dan reverse memiliki hubungan yang tidak linear, misalkan jarum forward pada skala penuh dan jarum reverse pada skala 1/2 penuh berarti SWR = 1:3. Ada juga SWR meter yang menggunakan cross-needle scale, dimana kedua jarum forward dan reverse saling bersilangan dengan penunjukan skala tertentu.
Nilai SWR dapat diperoleh dengan rumus berikut:
SWR = [1 + Rc] / [1 - Rc]
Dimana:
RC = | [ZL - Zo] / [ZL + Zo] |
ZL = impedansi input antenna (beban)
Zo = impedansi saluran transmisi (coax, feeder, dll)
Bila ZL atau Zo merupakan bilangan imajiner atau khayal, maka ZL atau Zo ini merupakan magnitudo dari bilangan tersebut.
Dari persamaan tersebut, RC memiliki nilai antara 0 s/d 1, bila RC = 0, maka SWR = 1 (Matched dimana impedansi antenna sama dengan impedansi saluran transmisi) dan bila RC = 1 maka SWR = tak berhingga (UnMatched).
Lalu sebenarnya berapa nilai SWR yang baik? untuk kepentingan amatir (bukan profesional) beberapa literatur ada yang mengatakan SWR < 2, beberapa mengatakan SWR < 1.5. Dari keduanya, saya paling sering mendapati SWR < 2.
Secara sederhana, saya tuliskan di blog dengan judul "Homebrew SWR Meter" cara membuat skala SWR dengan hanya 4 titik penunjukan jarum reverse sebagai berikut:
- Bila jarum forward skala penuh (sebut saja 1), dan jarum reverse tidak bergerak (sebut saja 0), maka SWR = 1 (kondisi matched).
- Bila jarum forward skala penuh (sebut saja 1), dan jarum reverse bergerak 1/3 penuh (sebut saja 1/3), maka SWR = 2.
- Bila jarum forward skala penuh (sebut saja 1), dan jarum reverse bergerak 1/2 penuh (sebut saja 1/2), maka SWR = 3.
- Bila jarum forward skala penuh (sebut saja 1), dan jarum reverse bergerak penuh juga (sebut saja 1), maka SWR = Tak Berhingga.
Dari keempat sample tersebut, bila tidak ada software untuk membuat skala seperti saya sampaikan link-nya diatas, maka OM bisa membuatnya dengan tangan. Kita nggak perlu tahu sampai detailkan? namanya juga amatir … hehehe.
Dari pengukuran yang OM lakukan diatas, OM bisa menyimpulkan berapa SWR antenna OM.
Kalau mau melakukan kalibrasi, maka OM perlu manambahkan sebuah VR misal sebesar 10K pada salah satu jalur forward atau reverse, tergantung mana yang perlu dikoreksi. Koreksi ini jika diperlukan sebenarnya untuk mengkompensasi ketidakseimbangan jembatan wheatstone akibat nilai komponen yang memiliki toleransi tertentu, misal:
- Komponen dan Capacitor resistor yang digunakan biasanya tolerasinya 10%, artinya masing-masing komponen bisa tidak sama persis.
- Potensiometer double gang sebelum VU meter, bisa jadi tidak sama persis kiri dan kanannya.
- Kedua diode kemungkinan tidak memiliki kesamaan baik pada tegangan majunya maupun resistansi internalnya.
Kalau semua ketidaksempurnaan diatas digabungkan, maka tentu akan mengintroduksi ketidakseimbangan kedua sisi jembatan whetastone.
Cara melakukan kalibrasi secara sederhana salah sebagai berikut:
- Bebani antenna dengan dummy load 50 ohm, yang benar-benar resistif murni pada band yang OM gunakan.
- Atur potensiometer, set supaya jarum forward mendefleksi penuh.
- Perhatikan jarum reverse, seharusnya tidak boleh defleksi atau hampir nyandar, jangan dibuat menyandar beneran, sekali lagi hampir nyandar. Bila ternyata tidak menyandar, maka jalur reverse yang perlu ditambahkan VR 10K tadi, atur sampai hampir menyandar.
- Selanjutnya lepas beban diantenna, jangan khawatir, RIG akan aman.
- Pada defleksi forward penuh, maka reverse harus dfleksi penuh juga atau hampir penuh … sedikit nggak akurat nggak apa-apa lah …
Demikian OM, semoga makin OK eksperimennya.
Have a nice day
YD1CHS
September 13, 2009 at 3:35 am
Kurniawan
OK Bos, laksanakan…! hehehe
Tapi pas tadi saya donlod meter scale, ngak gratisan, minta key number. Ada nggak? Yang gratisan dicoba, tapi nggak jalan.
September 13, 2009 at 4:46 am
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Please check Your Inbox.
Regards
YD1CHS
September 13, 2009 at 4:04 pm
Kurniawan
Makasih ya Om…
September 13, 2009 at 4:24 pm
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Saya sudah mencoba send 2 kali, namun kok tetap mendapatka message dari MAILER DAIMON bahwa posting saya nggak bisa nyampe ke email OM.
What is going on? apakah email OM over quota. Could You please give me another email address? Hi.
Regards
YD1CHS
September 13, 2009 at 8:38 pm
Jay
Wah2 asyik juga lama gak online ketinggalan kereta nich.salam buat rekan master ,om kurniawan seneng rasanya punya kenalan baru,
September 14, 2009 at 1:33 am
Kurniawan
Wah saya juga gak tau Bos, padahal dari tadi saya juga tungguin tuh kiriman emailnya. Coba kirim ke aa_nchus@yahoo.co.id emai ini yang aktif karena dipake Facebook. hehehe..
Sekalian laporan lagi, Bos. Gini, saya tadinya udah cukup puas dengan kerja Swr meter buatan ini. Semuanya sesuai arahan dan hasilnya OK. Tapi tadi sore, saya tes lagi. Masih pake Alinco DJ-195.
Dalam kondisi Low Power, semua berjalan “normal”. Jarum reverse nya goyang dikit , cuma 3 strip, (Saya anggap normal bagi sebuah alat homebrew) dan Jarum Forward tampil maksimum. Lalu saya coba Power nya di High… Eh… tu jarum reverse jadi menyimpang kuat ke arah kanan, lebih dari setengah pada skala VU display.
Kenpa ya, Bos? Koq alat ukur ini, Tidak “Reliable”? Apa kira2 masalahnya?
Btw, email nya di tunggu di aa_nchus@yahoo.co.id Bos…
Thank’s banget…. makin pusing makin asyik…hehehehe..
Buat OM jay, iya nih…seneng banget… Ilmu jadi Amal…hehehe
September 14, 2009 at 3:49 am
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Sudah saya resend ke emmail address terbaru, semoga bisa nyampe kirimannya.
Okay, tentang reliability alat ukur ini. Saya coba baca baik-baik deskripsi dari OM, namun ada 1 informasi hilang (saya kurang jelas), baik saya coba untuk ulang lagi deskripsi OM dimaksud dengan bahasa berbeda, sbb:
1. Testing dengan beban tertentu dengan pesawat DJ-195 dengan power output A watt.
2. Setting jarum forward di maksimum, penunjukkan jarum reverse di strip ke 3.
3. Power dinaikkan menjadi B watt, jarum reverse langsung menyimpang kuat ke kanan … nah disini jarum forwardnya belum OM ceritakan posisinya?
Jadi, penggunaan apapun namanya SWR meter, itu adalah sebuah perbandingan dari pembacaan forward dan reverse, setiap kali melakukan perubahan, baik power, pesawat, antenna (beban), OM harus melakukan adjustment kembali terhadap jarum forward, pada defleksi maksimum, jangan lebih, nanti pembacaannya juga kurang akurat.
Nah, lalu setiap menggunakan perbedaan power dalam melakukan pengukuran SWR, jangan berharap mendapatkan pembacaan yang benar-benar (exactly) sama persis, pasti ada perbedaan beberapa persen, namun juga tidak boleh terlalu banyak menyimpang jauh.
OK kembali ke topic, mohon klarifikasinya OM, bagaimana keadaan/ posisi jarum forward saat pengukuran dengan power lebih besar itu. Mohon disharing disini yaa, supaya pembaca lain bisa mengambil manfaat dari experience OM.
Regards
Cholis – YD1CHS
September 14, 2009 at 3:59 am
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Kalau ada foto experiment OM, please drop/send ke saya yaa OM, nanti biar bisa saya uploadkan pada blog, sehingga Rekan lain bisa lihat juga hasil besutan OM. Sekalian fotonya OM juga boleh, … hehehe.
Regards
YD1CHS
September 14, 2009 at 2:46 pm
Kurniawan
O iya, lupa. Ketika Power DJ-195 saya High, Jarum Reverse memang sangat cepat naik melebihi setengah dalam skala VU display, dan Jarum Forward pun naik maksimum bahkan sampai habis nyender ke bodi VU display sebelah kanan..(apa ini yg disebut jarum kesurupan, Bos? hehehe)..
Soal Poto, Insya Allah, kalo udah rapih saya Foto tu SWR buatan dan Uplod. Soalnya kalo nggak rapi, malu mo dinilai oleh “Guru”nya..hehehe
Thanks Bos…
September 15, 2009 at 11:30 am
Kurniawan
Email dan isinya sudah saya terima dengan baik. Thanks banget, Bos.
Ketika Power DJ-195 saya High, Jarum Reverse memang sangat cepat naik melebihi setengah dalam skala VU display, dan Jarum Forward pun naik maksimum bahkan sampai habis nyender ke bodi VU display sebelah kanan..(apa ini yg disebut jarum kesurupan, Bos? hehehe)..
September 15, 2009 at 3:12 pm
YD1CHS
Dear OM Kurniawan,
Bukan OM, itu bukan disebut kesurupan, kesurupan maksudnya adalah jarum bergerak diluar dari yang seharusnya, kalau yang dialami OM ini normal, nah sekarang sudah clear bahwa jarum forward pada posisi maksimum sampai nyender habis ke body, nah untuk mendapatkan hasil pegukuran SWR yang benar, OM atur potensiometer karah kiri, sampai dengan jarum forward berada pada skala maksimum dia (jangan sampai nyeder ke Bosy), nah bersamaan dengan posisi itu, maka posisi jarum reverse pasti tidak akan berada diposisi tengah, pasti dia sudah turun diangka lebih rendah, itu pembacaan yang benar.
Jadi fungsi potensiometer dual gang tersebut, yaitu untuk mengatur jarum forward pada skala maksimumnya (nggak boleh sampai nyeder), baru kita lihat penunjukan jarum SWR atau reverse.
Saya kira semuanya sudah jelas, dan bahwa SWR meter ini cukup reliable, meresponse semua perubahan baik sinyal input maupun beban antenna.
Regards
YD1CHS
October 30, 2009 at 8:37 am
adib
OM maw nanya,,,itu swr gmana caranya agar bisa dipakai untuk power sekitar 30 wattan,tinggal ngubah apanya??? thankss
October 31, 2009 at 7:04 pm
YD1CHS
Dear OM Adib,
Kelebihan SWR Meter ini adalah pada ukurannya, namun bila kita ingin melakukan pengukuran untuk QRO (Power>10 Watt) rekomendasi saya adalah menggunakan rangkaian SWR lain yang juga saya tulis di blog ini.
Namun dengan pemilihan komponen yang tepat maka rangkaian pocket sized SWR meter ini bisa juga digunakan untuk mengukur sinyal RF dengan power QRO (beberapa puluh watt saja).
Dari rangkaian bisa dilihat bahwa komponen yang akan dilalui arus RF pada saat pengukuran meliputi: R1 s/d R6, jadi dengan menggunakan resistor dengan watt lebih besar, misalkan untuk R1//R2, R3//R4, dan R5//R6 masing-masing menggunakan 20 buah resistor 1KOhm/2W, maka pocket sized SWR meter ini dapat digunakan untuk mengukur sampai dengan 40 Watt dengan aman. Namun, power diatas 40W-pun juga bisa diukur, namun jangan terlalu lama, pastikan bila resistor telah panas segera diswitch-off TX-nya. Modifikasi komponen diatas, konsekuensinya akan membuat rangkaian ini tidak lagi compact/ ringkas, sehingga tidak bisa lagi disebut sebagai Pocket Sized SWR Meter.
Well … have a nice day
Regards
Cholis – YD1CHS
November 1, 2009 at 2:21 pm
Omo Darma
Assalamualaikum…
Met Siang…
Maaf ni om Homebrew, sy ganggu dikit…
Sy Darma, mahasiswa STTAD (Perkuliahan milik TNI AD). Sy sedang dlm pengerjaan tgs akhir saat ini. Rencananaya sy mau bikin pendeteksi coverage area transmiter radio. Namun untuk mulai program saya ini ada bbrp hal yg ingin sy tanyakan :
Apa prinsip kerja VSWR itu dapat sy jadikan bahan buat alat sy itu gak? klo bisa, kira komponen apa saja yg perlu sy tambahkan? klo gak bisa, menurut Om Homebrew kira” aplikasi apa yg lebih tepat buat alat saya itu?
Makasih, sebelumnya.
November 1, 2009 at 5:02 pm
YD1CHS
Dear OM Omo Darma,
Sekilas bila saya baca topik TA yang akan diambil adalah “Pendeteksi Coverage Area Transmiter Radio” maka ada 2 arti yang bisa saya tangkap disini:
1. Sebuah alat untuk memprediksi (OM memakai kata Pendeteksi) coverage sebuah transmiter Radio.
2. Alat pendeteksi untuk menemukan posisi sebuah stasiun radio. Mirip-mirip fox hunter.
Untuk asumsi nomor 1 dan 2, SWR meter tidak dapat digunakan sebagai alat pendeteksi. Fungsi SWR meter adalah untuk mengukur gelombang berjalan forward dan reverse, dimana perbandingan keduanya dikenal sebagai SWR (Standing Wave Ratio).
Kalau boleh berkomentar, untuk asumsi saya nomor 1, maka:
- OM Perlu tahu jenis antenna apa yang dipakai, untuk mengetahui bagaimana pola radiasinya.
- Bila OM bekerja pada band UHF ke atas (gelombang permukaan/ terestrial), maka coverage lebih gampang untuk diprediksi.
- Namun bila OM menggunakan band HF, dimana lapisan ionosfer berperan dalam pemantulan gelombang, maka OM perlu pengetahuan tentang info propogasi saat itu.
Asumsi nomor 2:
- Alat alat untuk mendeteksi/ mencari keberadaan sebuah stasiun radio, maka OM perlu sebuah receiver plus sebuah antenna pengarah. Rekan HAM sering berkompetisi dalam mencari sebuah pemancar kecil (beacon) dengan metode diatas, biasanya kegiatan ini disebut dengan Fox Hunting.
Demikian, apakah sudah mewakili pertanyaan OM?
Regards
Cholis Safrudin – YD1CHS
April 28, 2010 at 12:17 am
muhammad umar
wah tenk banget aku ahirbya tau sebenarnya swr itu kayak apa….
September 28, 2010 at 4:41 pm
legowo
halo pak cholis…minta tolong dikirimin software “meter”…saya coba download di NET, cuma sudah tidak gratisan lagi…
matur nuwun ;D
legowo
November 18, 2010 at 1:17 am
gordon
Tanya om, cara up grade frekwensi HT Motorola mag one gimana, aku dah punya sofwarenya tapi kok ga bisa dirubah, tetp aja di 150.000 -170.000 Mz
November 25, 2010 at 6:53 am
YD1CHS
Dear OM Gordon,
Mohon maaf beribu maaf OM yaa … aku belum punya experience disitu euy, jadi nggak bisa ngebantu nich … mungkin teman-teman lain bisa membantu … silakan …
Regards,
Cholis YD1CHS
February 13, 2012 at 11:22 am
Ahmad
Sepertinya setelah saya intip antara skema mentah dan SWR meter pocket anda yg sudah jadi itu kok ada perbedaan ya OM?
Pada skema terdapat dua potensio dan dua multimeter, sedangkan pada rangkaian jadi anda, hanya terdapat satu potensio dan satu multimeter. Saya jadi bingung aja mau mengcopy SWR Meter pocket ini. Potensio dan Multimeter yg lain kemana? Bagaimana cara menghilangkan itu? Apakah Om bisa menggambar ulang skema yang telah berhasil Om buat?
Thanks
February 13, 2012 at 11:26 am
YD1CHS
Itu menggunakan potensiometer stereo, bukan mono, secara fisik memiliki 1 rotator, namun punya 6 kaki, atau dg kata lain: 2 buah potensio mono yg digabung menjadi satu … Demikian OM, jadi rangkaian tsb masih valid, tks.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
February 14, 2012 at 9:15 pm
Ahmad
OOoo, betul sekali…. seharian saya juga berpikir untuk memecahkan kebuntuan ini. Eh, kesimpulan OM hampir sama…
Namun, spertinya potensio pada gambar tsb mono OM, kakinya cm tiga… Nah, ni baru ketemu, ada potensio lain yg lbih kecil yg nempel deket switch/saklar biru….
BTW, ada penampakan dari SWRM pocket ini:
Thx…
March 16, 2012 at 3:33 pm
hani
very nice, jadi pengin mencobanya