Dengan hembusan “Wind of Change” ditanah per-Amatiran Radio di YB-land (Indonesia) yang ditandai dengan munculnya PERMEN MENKOMINFO nomor 33/2009, maka strata terendah yaitu SIAGA memperoleh banyak sekali advantages darinya, diantaranya adalah espansi phone mode pada band 40M. Dengan ini pula bila dilihat dari posting di milist ORARI, banyak AR terutama tingkat SIAGA (just like me … hehehe) yang mulai menggeliat, salah satunya adalah ekspanding antenna system eksisting supaya bisa digunakan pada seluruh band sesuai priviledgenya.
Untuk menyediakan 1 buah antenna khusus (monoband) untuk semua band amatir adalah tidak mungkin, terlebih bagi Poor Man Homebrewer & AR seperti saya, karena harga kabel RG-8 yang biasa saja di Pasar Cikapundung semeter sudah seharga 13ribu rupiah, tinggal dikalikan saja per-antenna 20 meter, anggap saja ada 4 band, maka 80 meter RG8 harus ditebus dengan sepuluh-an buah lembaran warna merah pink … belum kalau antenna-nya built-up alias bukan buatan sendiri … mungkin jadi lebih mahal dibanding harga sebuah RIG kuno semisal FT-80C atau TS-430S seperti yang ada di meja saya … ihik-ihik ironi banget yaa …
Sebuah antenna All-Band dari kawat sangat mudah dan membutuhkan waktu dan biaya yang sangat sedikit, dari kacamata saya, sangatlah sayang bila kita harus membelinya dalam kondisi jadi dengan harga yang tidaklah murah. Banyak sekali all-band atau multiband antenna dari kawat yang bisa kita jumpai dan memungkinkan untuk dibuat, diantaranya yang cukup termashyur adalah Windom Antenna (OCF Dipole = Offset Centre Feed Dipole), G5RV, G7FEK, Loaded Dipole, dll. Namun disini saya akhirnya mempersunting Windom Antenna dengan transmition line menggunakan COAX 50 Ohm bukannya menggunakan Twin-Lead 300 atau 400 Ohm, karena setelah saya cari di Pasar Cikapundung keberadaan Twin-Lead 300 Ohm sangatlah jarang, kalaupun ada merupakan barang sisa perang dan kualitasnya sangat jelek dimana serabut kawatnya sangat sedikit dan ringkih, dan satu lagi harganya juga lebih mahal dibandingkan dengan seutas kabel coax RG-58A/U per-meternya, mungkin barang langka jadi yaa harus mahal kali … hihihi. Kedua, kenapa Windom, karena panjang overall QTH saya cuman 20 meter terus di belakang QTH ada balong atau tanah kosong yang belum digarap dan jarang disambangi pemilikinya, jadi Windom Antenna cocok sekali, karena radiator pendeknya yang membutuhkan panjang kurang dari 15-an meter udah bisa masuk ke lahan saya plus feedpoint-nya tepat di atas meja kerja saya.
CARA KERJA ANTENNA & IDE PENEMUAN WINDOM ANTENNA
Terus terang saya salut dengan ide OM. Loren Windom (W8GZ) dalam penemuannya pada Windom Antenna, yaitu beberapa sinyal sinusoida beberapa band amatir pada phase sekitar 60-an derajat (atau sekitar 30-an% dari total panjnag 1/2 lambda, dimana dalam 1/2 lambda perjalanan phase terbesar adalah 180 derajat), nilai absolute amplitudonya bertemu pada satu titik yang sama, dimana kalau diukur pada titik tersebut impedansi (Z) antenna memiliki nilai yang hampir sama yaitu sekitar 200-300 Ohm (tergantung dengan ketinggian feedpoint). Maka bila kita meletakkan titik pencatuan (feeding point) disitu, maka akan diperoleh impedansinya yang hampir sama, dengan kata lain SWR-nya akan tetap, dan selanjutnya kalau saluran transmisi yang digunakan adalah twin-lead 300 Ohm, berarti pada titik itu SWR-nya akan mendekati 1 atau matched.
Nah lalu dimana tepatnya posisi common point tersebut berada, setelah melalui eksperimen yang sangat melelahkan ia menurunkan persamaan bahwa ia berada pada 36% dari panjang 1/2 lambda frekuensi terendah pada band yang dipekerjakan. Pada titik itulah beberapa band akan menghasilkan impedansi yang hampir sama antara 200-300 Ohm.
PERKEMBANGAN WINDOM ANTENNA
Pada awalnya Windom Antenna didesain dengan menggunakan twinlead sebagai saluran transmisinya, sebab saat itu untuk mendapatkan twin-lead lebih mudah dan murah dibandingkan coax, namun saat ini keadaan menjadi terbalik, untuk memperoleh coax jauh lebih mudah dan sangat umum.
Para AR saat ini kemudian memutar otak untuk mengakali antenna ini, dan fortunately saluran transmisi twin lead pada desian aslinya bukan merupakan bagian dari antenna, sehingga selanjutnya saluran transmisi ini bisa diganti dengan coax 50 ohm, namun harus ditambahkan balun 4:1, 5:1 atau 6:1 sesuai dengan ketinggiannya. Salah seorang AR yang mengamati gejala ini adalah OM. G.E. Buck Roger Sr. (4KABT), ia mengatakan bahwa pada ketinggian feedpoint antara 6-12meter impedansi antenna sekitar 200 Ohm balun yang cocok adalah 4:1, ketinggian 12-16meter impedansinya 250 Ohm balun yang cocok adalah 5:1, dan ketinggian 16-21meter impedansinya 300 Ohm balun yang cocok adalah 6:1.
Balun ini memiliki 2 fungsi sekaligus, yaitu sebagai penyesuai impedansi dan sekaligus untuk menghindari terjadinya kebocoran (leak) arus pada outer konektor coaxial, yang akibatnya adalah berubahnya/ rusaknya pola radiasi antenna.
EKSPERIMEN SAYA
Saya tidak berpatokan dengan ukuran asli Windom Antenna, rumus pada gambar adalah rumus favorit saya dan seharusnya Windom tidak mengunakan rumusan tersebut. Dalam eksperimen ini saya hanya berpatokan pada statement “buat bentangan kawat dengan panjang 1/2 lambda dari band terendah yang akan dipekerjakan” … nah akhirnya saya menggunakan band 80M sebagai band terbawah antenna ini. Yaitu dengan panjang total radiator L(meter) = 0.95 * 300 / f(MHz)/ 2, dimana 300 cepat rambat gelombang radio pada free-space, kemudian 0.95 adalah faktor koreksi cepat rambat gelombang radio diseutas kawat (lebih lambat), dan f adalah frekuensi kerja terbawah, dalam hal ini saya mengambil angka 3.5MHz (band 80M).
Selanjutnya radiator pendek adalah sepanjang 36%*L dan radiator panjang adalah 64%*L, pada pertemuan keduanya ditempatkan sebuah balun 4:1 sebagai feed-point. Antenna saya bentangkan sesuai kontur yang ada pada ketinggian feed-point hanya 6 meter (karena nggak punya tower), dan masing-masing end radiator ketinggian sekitar 2.5-3 meter. Kedua radiator saya buat dari bahan berbeda, seadanya, makanya antenna ini disebut sebagai “A Poor Man” hehehe … yaitu radiator pendek dari seutas kabel NYA sekitar 1.2mm sisa instalasi listrik yang karena panjangnya nggak nyape, saya sambung dengan kawat email 1mm sampai panjang terpenuhi. Sementara itu radiator panjang lebih menyedihkan, sekitar 10meter pertama dari feed-point terbuat dari email bekas 1.5mm, lalu sisanya disambung dengan email bekas juga dengan diameter 1mm. Masing-masing end point saya talikan dengan tali rafia plastik diameter 3mm, saya sangkutkan pada car-port dan pagar perumahan … hehehe.
Kembali ke 4:1 balun, saya buat dari 2 utas email diameter 1.5mm yang saya lilit bersama (berdampingan) pada sebuah batang ferit bekas antenna radio MW sebanyak 10 lilit. Hot End dan Cold End kedua dipertemukan untuk disambungkan ke ground coax, sementara ujung yang lain bertemu dengan inner coax dan radiator antenna, silakan lihat ilustrasi gambar.
Oh yaa … untuk memastikan bandwidth balun kita bisa mencover seluruh band HF dan tetap memberikan penyesuai impedansi di 4:1 saya menggunakan teknik sederhana untuk mengujinya. Lihat gambar cara pengujian 4:1 Balun, dimana dengan menggunakan power kecil (QRP) kita sampling beberapa titik yang mewakili seluruh band HF dari 3-30MHz, lalu dengan dummy load 200 Ohm ukur SWR-nya. Pada seluruh frekuensi sampling, SWR harus sama dengan 1 (matched), bila tidak maka balun tersebut berarti hanya memiliki bandwidth sempit, pastikan bahwa balun yang kita buat bisa mengcover seluruh band HF.
PERFORMANSI ANTENNA
Dalam menggunakan antenna ini saya memakai Homebrew Z Matcher untuk memastikan seluruh band tercover dengan SWR seminim mungkin, selain itu juga saya percaya penggunaan ATU yang merupakan filter terakhir sebelum ke antenna akan mengurangi QRM dan TVI disekitar kita. Bila diibaratkan berkendara, safety riding gitu lho … atau dalam dunia peramatiran radio mungkin disebut safety on air … kali yaa … hehehe.
Beberapa AR ada yang sangat anti menggunakan ATU dengan alasan akan terjadi loss pada ATU yang akhirnya mengurangi disipasi power di antenna. Memang betul statement tersebut, ATU adalah perangkat pasif, pasti akan terjadi loss disini. Nah tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Sesuai dengan tulisan dari salah satu eksperimenter Windom antenna yaitu OM. G.E. Buck Roger Sr. (4KABT), bahwa dengan penalaan yang tepat antenna Windom dapat matched di beberapa band amatir sekaligus dan dapat digunakan langsung tanpa ATU. Kuncinya adalah kata “Penalaan Yang Tepat”. Karena saya mendirikan antenna ini sendirian, harmonik saya masih kecil-kecil jadi belum bisa membantu, dan untuk naik turun ke lantai 2 cukup berat, sebab bila anda melihat foto saya, anda pasti bisa memperkirakan berat bandan saya … hihihi, maka saya tidak menala antenna ini, langsung instant sekali pasang, biarlah Z Matcher yang bekerja untuk ini.
Penunjukan SWR di semua frekuensi HF (3.5 s/d 30MHz) dapat disesuaikan dengan impedansi transmisi 50 Ohm alias matched, nyaris menunjukkan SWR=1 semuanya. Lebih lengkapnya lihat tabel pada gambar. Pengetesan ini juga sekaligus dilakukan untuk melihat kinerja Homebrew Z-Matcher saya.
Beberapa pengetesan ON-AIR yang sempat saya lakukan adalah (detail lihat gambar):
- Tanggal 17 Okt 2009 : pada frekuensi 3.815MHz dengan YC0HQL di Jakarta dengan report 5/9+30dB, YC1DNR di Bekasi dengan report 5/9+20dB, YF1EPH di Bandung dengan report 5/9+30dB, YC1OJI di Subang dengan report 5/9+20dB dan YC1PBY di Cirebon dengan report 5/9+20dB.
- Tanggal 18 Okt 2009: pada frekuensi 3.865MHz dengan YB3Z.. (stasiun pengendali oleh OM. Lilik di Blitar) pada checking Nusantara Jawa Timur dengan report 5/7. Pada frekuensi 3.830MHz dengan YC2NKY di Cilacap dengan report 5/9+. Dengan YC3MFA di Ponorogo dengan report 5/9+10dB, namun tidak tercatat di logbook karena Beliau keburu clear-off karena ada kepentingan.
- Tanggal 19 Oktober 2009: pada frekuensi 7.060MHz dengan YC3DRG/2 di Rembang dengan report 5/9+20dB, pada frekuensi 7.1MHz dengan YC7UU di Samarinda dengan report 5/9+10dB, pada frekuensi 7.15MHz dengan YB6BS di Aceh Darussalam dengan report 5/9+5dB, dengan YB7FT di Pontianak dengan report 5/9+5dB, dengan YC7DYY di Pontianak dengan report 5/9+.
- Tanggal 20 Oktober 2009: morning ragchewing pada frekuensi 3.830MHz dengan YC0LVD di Jakarta dengan report 5/9+30dB, YC1OTA di Bandung dengan report 5/9++, YD1LWB di Cicalengka Bandung Selatan dengan report 5/9+30dB.
- Sebelum tanggal tersebut saya sempat QSO dengan Rekan di KTI namun tidak terecord di logbook karena belum sempat tukar-menukar report dan data teknis, yaitu dengan YC8NAK di Palu dengan report dapat diterima dengan baik.
- Oh yaa, saya tambahi juga DX experience dengan menggunakan antenna ini pada mode PSK-31 dan RTTY, berikut beberapa kutipan dari logbook saya : 10-Nov-09 dengan VK6JJJ (Perth- Aussie) mode RTTY, 13-Nov-09 dengan UA0FO (Yuzhno Sakhalinsk - Russia) mode PSK-31, 14-Nov-09 dengan E21YDP (Bangkok – Thailand) mode RTTY di 40M, 20-Nov-09 dengan VR2XLN (Hongkong – PR. China) mode PSK-31 di 40M, 21-Nov-09 dengan JA1PRV (Tokyo – Japan) mode RTTY di 15M.
- Saya tambahi lagi record QSO saya pada acara Kebayoran Marathon Contest 2009 tanggal 26-27 Desember 2009 yang lalu, dengan antenna yang sama saya mengumpulkan 117 QSO dengan rincian sesuai pada gambar dibawah.
Thanks untuk semua OMs diatas yang telah dengan sabar meluangkan waktu untuk mereport eksperimen saya. Detail logbook silakan lihat dan click pada gambar.
OPPORTUNITY FOR IMPROVEMENT
Saya yakin benar performansi antenna ini akan makin baik bila kita menaikkan feedpoint pada ketinggian yang cukup, namun balun perlu kita sesuaikan, supaya Z Matcher-nya tidak terlalu kesulitan dalam mengejar impedansi saat resonansi di semua Band HF.
Saya belum tahu persis bagaimana efisiensi dari Balun yang saya pergunakan, di dalam Balun ini pasti terjadi loss daya karena ia adalah rangkaian pasif. Untuk mengurangi loss ini, kita bisa antenna langsung dengan kabel twin-lead, kemudian biarkan Z-Matcher yang menyesuaikan ke 50 Ohm. Dengan demikian loss yang terjadi hanya pada Z-Matcher saja. Dalam konfigurasi eksperimen antenna saya terjadi 2 titik loss, yaitu di Z-Matcher dan 4:1 Balun.
Akhir kata, walaupun sistem antenna ini masih jauh dari sempurna dan efisien, namun saya pribadi sudah cukup puas, minimum saya QRV untuk bekerja disemua band sesuai previledge yang saya miliki saat ini.
OK, have a nice day de YD1CHS.












56 comments
Comments feed for this article
October 23, 2009 at 5:26 am
Amin Wibawa-YD2MJR
Wah terima kasih artikel dan testimoni Windom Antena-nya yang cukup detil, jadi kepingin nyoba.
73 de
YD2MJR /0
October 23, 2009 at 6:01 am
YD1CHS
Dear OM Amin Wibawa YD2MJR,
Pesen saya OM, feedpoin-nya OM naikkin setinggi-tingginya, pasti dech OK hasilnya, karena saya nggak ada tower … yaaa, sambil gigit jari … nrimo ini aja lah … hehehe.
Regards
YD1CHS
October 24, 2009 at 7:47 am
Amin Wibawa-YD2MJR
He..he sayang OM Cholis, QTH saya juga terbatas lahannya.Tapi trims sarannya.
73 de
YD2MJR
October 26, 2009 at 11:32 am
HEM - YD3 RLU
sharing aja ya OM.. windom tuh termasuk kategori vertikal antenna ataw horisontal natenna yah? saya pernah baca (lupa dimana) windom termasuk vertikal antenna. kalo vertikal kan I max (current maxima) ada di ujung antenna (ujung L2 kalo disini), jadi yang harus diletakkan setinggi-tingginya adalah ujung L2 ini.
Tetapi kalo termasuk horisontal antenna maka memang bener kalau feed point yg diletakkan setinggi-tingginya.
mohon petunjuknya OM (CMIIW.)
hem YD3RLU
October 26, 2009 at 12:59 pm
YD1CHS
Dear OM YD3RLU,
IMHO: beberapa AR menyebutkan Windom Antenna sebagai Offset Centre Feed Dipole (OCFD), dimana salah satu definisi antenna ini menurut Duane C. Redline (W3UQH) dalam websitenya http://www.enter.net/~reahrens/ocf_80m.html menyebutkan:
“The Off-Center-Fed (OCF) Dipole is a antenna design that uses the variation of resistance along a resonant dipole to provide a feed-point resistance that can be matched to a 50 ohm coaxial transmission line with a 4:1 balun.”
Jadi menurut definisi di atas, antenna ini memang masuk ke dalam golongan dipole, mungkin OM menyebutkan sebagai antenna horizontal.
Demikian CMIIW, please …
Have a nice day
Regards YD1CHS
November 2, 2009 at 10:16 pm
YD1TMP
bravo om…saya juga baru 1 minggu menggunakan windom, dengan turunan carolina windom..terinpirasi dari sempitnya lahan..hehehe alhamdulilah saya sudah bisa ber qso dari banda aceh sampai ke halmahera dengan 5/9 +
sama seperti om bilang, saya juga menggunakan RG 58, dan untuk bentangannya saya menggunakan kabel UTP sisa dari teman saya waktu kantornya pindahan..(ngirit biaya)
meskipun belum sempurna, namun saya juga puas karena ini baru pertama saya buat antena HF om..saya akan sering berkunjung ke blog ini..dan ditunggu qso di 40 m band..hehehe..terakhir saya ber qso dengan stasiun dari rusia.itu juga ngumpet-ngumpet takut ketahuan soalnya masih siaga..
sekian sharingnya om..
November 2, 2009 at 10:21 pm
YD1TMP
NB : sampai lupa ini link tambahan mengenai carolina
windom..http://www.hamuniverse.com/k4iwlnewwindom.html
semoga bermanfaaat bagi kita semua
dodi
November 3, 2009 at 6:41 am
YD1CHS
Dear OM Dodi Lukman (YD1TMP),
Selamat OM, hehehe … memang antenna kawat (wrie antenna) seharusnyalah homebrew, jangan beli soalnya bikinnya guampang dan harganya murah tenan … performansinya bisa diadu …
Oh yaa, bila tidak keberatan mohon informasi teknis tentang antenna dan pesawat yang OM gunakan, sbb:
1. Ketinggian feed-point berapa?
2. Saat QSO dengan stasiun Rusia running berapa watt?
Lalu tentang QSO dengan stasiun luar negeri buat kita-kita SIAGA (YD/YG) saat ini sudah diperbolehkan sesuai KM.33/2009, jadi nggak usah ngumpet-ngumpet lagi OM … hehehe, yang penting aturan dan operating prosedur-nya ditaati.
Demikian OM, have a nice day …
Best Regards
Cholis – YD1CHS
November 3, 2009 at 8:05 pm
YD1TMP
om cholis..saya menggunakan pesawat ft 80 c..
1. ketinggian feed point = 9 meter dan pososi antena saya adalah miring hampir mirip inverted tapi sebelah sisi saja..
bentangan terpendek = ada diposisi 12 m
bentangan terpanjang = ada diposisi 4 m
2.saat ber -qso dengan rusia saya running 80 watt
saya belum baca detail KM 39/2009 baru liat batasan frekwensi yg boleh dipergunakan..justru itu yg mau saya tanyakan om..seandainya ada statiun asing berada difrekwensi sesuai KM33, apakah boleh berqso…hehehe..
sekedar info..apakah betul carolina windom itu lompatannya cukup signifikan..? terkadang di 40 m saya bisa monitor stasiun asing om..
salam
dodi
November 3, 2009 at 8:27 pm
YD1CHS
Dear OM Dodi YD1TMP,
Thanks atas informasi teknisnya yaa … bagus dech OM tinggi feedpoint 9 meter bisa tembus daratan eropa timur, that was awesome … hehehe.
Oh yaa … benar KM33/2009 benar-benar memberikan “wind of change” buat kita-kita level SIAGA (YD/YG), selain di 80M kita boleh bekerja di 40M by phone mode, even QSO dengan luar negeri (DX) asal power kita masih tetap dalam koridor max.100W dan pada band plan yang benar … itu HALAL OM, jadi teruskan untuk bertukar QSL Card dengan stasiun-stasiun luar sono … hehehe.
Tentang lompatan yang OM maksud mungkin skip distance yaa … benar OM, kelebihan Carolina Windom dengan Original Windom adalah pada radiator vertikalnya. Dengan adanya radiator vertikal + plus horisontal, maka antenna ini memiliki angle radiation (atau Take Off Angle) rendah as well as tinggi, akibatnya ia mewarisi sifat antenna horisontal dan vertikal sekaligus.
Angle radiation (Take Off Angle) yang rendah (kecil) membuat sinyal kita memiliki skip distance yang jauh, akibatnya cocok untuk komunikasi DX, sementara Angle radiation tinggi memiliki skip distance yang dekat, sehingga cocok untuk komunikasi lokal. Jadi dengan kata lain, antenna tersebut bisa untuk AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) dan AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) sekaligus … apakah pada saat mendirikan antenna tersebut OM tidak menyadarinya??? … hehehe
Tentang monitoring stasiun luar negeri QSO di 40M (frekuensi > 7.120MHz) yaaa … pasti OM, karena antenna ya juga telah mendukung, apalgi feed-pointya dinaikkin lebih tinggi, pasti lebih paten.
Sekali lagi selamat, walaupun OM bilang dibuat dengan material sederhana, namun sinyal RF tidak akan peduli … hehehe.
Have a nice day,
Regards
Cholis – YD1CHS
November 4, 2009 at 6:54 am
YD1TMP
om cholis..terima kasih atas pujiannya..nanti saya posting poto antena saya..mudah2an pas pulang kerja masih terang benderang..maklum biasanya pulang kerumah setelah magrib..heheheh (kuli di jakarta abis di jalan) disamping itu setiap ngoprek bisanya hari libur..itu juga rebutan sama anak..hehehe
om cholis..barangkali punya skema balun 6:1 ato gambarnya, tadinya ketinggian feed point mau saya naikan lagi jadi 16 m tapi kok harus ganti balun yah..? heheh maklum rasa penasaran ini sepertinya ada terus..
salam
YD1TMP (dodi)
November 4, 2009 at 7:41 am
YD1CHS
Dear OM Dodi YD1TMP,
Wah kalau sudah diketinggian 16 meter makin paten OM performansinya. Oh yaa, kalau Windom Antenna memang benar ada perubahan ketinggian feed-point maka impedansi antenna akan berubah, konsekuensinya balun juga berubah. Mungkin di Carolina Windom juga seperti itu. Kalau Windom berdasarkan catatan empirik OM. Buck Roger, pada ketinggian feedpoint:
a. 6-12 meter impedansi antenna adalah 200 Ohm balun yang sesuai ke 50 Ohm adalah 4:1
b. 12-16 meter impedansi antenna adalah 250 Ohm balun yang sesuai ke 50 Ohm adalah 5:1
c. 16-21 meter impedansi antenna adalah 300 Ohm balun yang sesuai ke 50 Ohm adalah 6:1
Untuk rangkaian balun 6:1, saat ini saya masih belum ada, by the way, saya juga akan coba cari, dan kalau nemu akan saya share ke OM. Dengan ini juga saya jadi tertarik untuk bereksperimen dengan antenna Carolina Windom juga … hehehe.
Habis saya itu QSO bila saat mencoba sebuah antenna eksperimen saja, pada waktu eksperimen Windom kemarin hampir 1 minggu saya full QSO, setelah itu sama sekali nggak QSO sampai hari ini, hehehe. Nah kalau nanti mencoba Carolina Windom, kan QSO lagi saat mencoba, itung-itung supaya log-book nggak kosong melompong … hehehe.
OK, bila OM ada fotonya … saya sangat hargai kalau dishare ke saya …
Well … Viva Homebrewing & Have a nice day My Friend …
Best Regards
Cholis – YD1CHS
November 4, 2009 at 7:50 pm
YD1TMP
om cholis…saya lebih sering berqso di 40 m karena saya set kabel difrekquensi paling bawah di 7.1..alhasil swr bagus di band itu..heheh kalo mau ketemu bisa di 7.035..saya lagi senang menuju kearah sumatera, kalimantan..sekalian uji coba antena..
salam
dodi
November 5, 2009 at 6:44 am
YD1CHS
Dear OM Dodi YD1TMP,
Kalau saya dua-duanya OM 80M dan 40M, berhubung sudah diizinkan yaaa … benar-benar dioptimalkan OM … saya biasanya tidak stand-by disatu frekuensi tertentu, namun kalau 80M biasanya saya scan antara 3.78-3.86Mc dan di 40M antara 7.04-7.2Mc, khusus 40M kalau malam hari di 7.120Mc keatas banyak DX-er dari luar sono terdengar.
Oh ya OM Dodi ada pertanyaan lagi nich, kan New Carolina Windom itu ada radiator vertikalnya yang pakai coax yaa … nah untuk memisahkan radiator tersebut dengan saltran ke TRX kita, kan pakai choke balun, nah … choke balun yang OM pakai disini apa cukup dengan melilitkan beberapa kali kabel saltran ke PVC, atau menggunakan toroid, atau apa?
OK, semoga nanti bisa ketemu on the Band !!!
Regards
Cholis – YD1CHS
November 5, 2009 at 7:55 am
YD1TMP
om cholis,
untuk choke balun saya menggunakan ferite bekas radio am..cukup 10 lilitan rg 58,dan saya masukan kedalam pipa paralon 1.1/4 inch sisa dari torn air..(heheh) dan untuk penutup atasnya, saya menggunakan tutup bekas pewangi pakaina(molto cair)
ini link yg lain untuk carolina windom
http://www.m0ukd.com/Carolina_Windom/index.php
untuk konstruksi, saya buat mirip seperti yg tergambar di link tersebut, hanya bahan yg berbeda,
sekedar info : sehubungan saya tdk punya antena analyzer,maupun turner, jadi memang terjadi pergeseran prekwensi untuk jenis bahan yg dipakai…saran saya untuk bahan yg bukan AWG 14 agar diperpanjang sekitar 2 mhz untuk rumus pengitungan kabelnya..
sebagai perbandingan : – utk kabel utp,frekwensi bawah yg di set adalah 7.1 tetapi waktu di uji coba ternyata bekerja maksimal di 7.4 sebagai center frekwensi.
jadi berdasarkan apa yg saya alami, untuk membuat center frekwensi harus dikurangi sekitar – 3 mhz. sbg contoh : bila mau center frek di 3.8 maka center nya ada di 3.5. untuk pemotongan kabelnya..
sekian dulu om cholis, mudah2an saya masih bisa belajar lagi..maklum baru 2 minggu dan tentunya keslahan adalah guru terbaik..heheh..hatur nuhun..
salam
November 5, 2009 at 7:59 am
YD1CHS
Dear Om Dodi YD1TMP,
Mantap dech OM, yaa … keep on experimenting ! hehehe …
OK, thanks atas penjelasanya … hope see U on the Band.
Have a nice day …
Best Regards
Cholis – YD1CHS
November 25, 2009 at 11:25 am
Sardjana
Siip OM…..nice info.
Pengin nyobain juga nih….
73!
November 25, 2009 at 11:50 am
Sardjana
OM Cholis,
Kira-kira untuk dedicated WARC band bisa ndak ya OM [12,17 dan 30m] hasil dari experiment Anda.
Pengin nyobain juga nih…..kira-kira pendekatan dimensi yang terbaik berapa ya OM….
Thanks.
November 25, 2009 at 1:10 pm
YD1CHS
Dear OM Sardjana,
Kalau pake Z-Matcher semua band HF nggak terkecuali akan diperoleh SWR=1:1, namun ia tanpa Z-Matcher berdasarkan data saya antenna ini tuned disekitar : 2.7MHz, 3.5MHz, 5.4MHz, 7.4MHz, 10.7MHz, 14.4MHz, 16.5MHz, 17.5MHz, 25MHz dengan indikasi SWR < 2.5.
Untuk itu supaya SWR menjadi resonable, maka kehadiran Z-Matcher sangat dibutuhkan. Saat ini ketinggian feedpoint saya masih 6 meter, belum punya waktu untuk menaikkan.
Regards
Cholis – YD1CHS
November 26, 2009 at 7:35 am
Sardjana
Confirm OM Cholis, thanks informasi-nya.
Ehm…next project Windom, Balun 4:1 then Z-matcher….siip!
73!
December 16, 2009 at 1:42 pm
JHONI FALCON
SELAMAT ATAS KEBERHASILAN ANTENANYA
December 28, 2009 at 9:07 am
Dewa Raija
Way Di Wan Si Eit Es, he he he boleh kan dipanggil begitu ? Sebuah artikel yang sangat menarik dan sangat memberi pengetahuan tambahan bagi saya. Saya mau bertanya, hanya saja pertanyaan saya jauh menyimpang dari topik bahasan disini, tetapi saya berharap Om YD1CHS bisa membagi pengalaman dan pengetahuan terhadap permasalalahan saya disini.
Saya punya tetangga yang selalu komplin kepada saya tentang TV-nya yang terkena imbas RF saya. Dia tidak rela kalau ‘Take Me/Him Out’-nya digantikan oleh siaran saya
. Konon setiap saya memancar, siaran TV disana berubah menjadi pola batik dan suara ‘korek roger’-nya saya yang muncul.
Saya biasa bekerja di gelombang CB sesuai licence saya. Antena yang saya gunakan 1/2 lambda vertikal dengan power saya set kisaran 8 – 12 watt pada AM dan maksimum 25 watt pada side band. Radio yang saya gunakan sama dengan yang Om YD1CHS punya, yakni Yaesu FT80C. Saya sudah memasang ground pada radio bahkan sudah saya tancapkan ke dalam tanah, disamping juga grounding pada antena. SWR perbandingannya 1.2 : 1 dengan skala Maldol buatan Jepang, tetapi toh juga masih tetap meng-interfere TV tetangga.
Hanya saja saya tidak tahu pasti antena yang digunakan dan tetangga untuk penerimaan TV-nya. Jarak antara antena saya dengan TV tenagga berkisar 3 meter, dengan ketinggian antenna saya 6 meter dari ground. Untuk memasang filter pada TV tetangga rasanya tidak mungkin, sebab orangnya sangat awam soal benda-benda berbau elektronik, apalagi yang berbau RF. Untuk memindahkan lokasi antena saya pun tidak memungkinkan, sebab terbatasnya lahan yang tersedia.
Nah yang menjadi pertanyaan, apakah ada filter yang bisa dipasang pada perangkat radio saya untuk mengatasi hal itu ? Saya sudah memasang sebuah balun dari kabel RG58 yang saya lilitkan pada batang ferrite sebanyak 15 lilitan di bagian kabel transmisi dekat dengan konektor antenna pada pesawat. Tetapi ini tidak mambantu. Kiranya kalau Om YD1CHS bisa memberikan solusi terhadap permasalahan saya ini, saya ucapkan banyak terimakasih.
Salam,
Dewa Raija – JZ14AM
December 28, 2009 at 1:39 pm
YD1CHS
Dear OM Dewa Raija JZ14AM,
Saya pernah mendapatkan kisah yang sama dari beberapa rekan AR saya yang mengalami hal serupa, berikut beberapa tips yang mungkin bisa OM coba, sorry tips ini hanya yang ada dibenak saya, mudah-mudahan nanti ada rekan lain yang menambahkan, saya urutkan dari yang paling gampang effort-nya:
1. Pastikan antenna anda dalam kondisi matched (SWR sekecil mungkin) dan pastikan menggunakan grounding yang baik!
Walaupun sebenarnya tidak ada kaitan antara SWR dan Interference, namun di dunia nyata … rupanya cukup manjur juga.
2. Pastikan antenna anda tidak tepat berada di mainlobe antenna Yagi TV tetangga!
Sekecil apapun frekuensi harmonic, bila berada tepat didepan mainlobe antenna Yagi TV yang notabene memiliki gain gedhe, maka pasti akan mengintereference.
Bila mungkin letakkan antenna anda dibelakang mainlobe/ reflector element antenna Yagi TV dimaksud, atau bila tidak ada space, sesuaikan lokasinya yang penting tidak didepan mainlobe.
Sebagai informasi, saya juga memiliki antenna serupa, dekat dengan antenna TV saya (Yagi+Booster) dengan jarak hanya < 2 meter, namun posisinya saling berdampingan sehingga tidak mengganggu acara kesayangan keluarga kami, walaupun saya running QRO (daya gedhe).
3. Tambahkan TVI (TV Interference) Filter!
Rangkaiannya bisa dijumpai di Internet, adalah sebuah LPF, dengan menambahkan TVI Filter, berari LPF RIG kita akan double, efeknya frekuensi harmonik makin teredam dengan baik …
4. Menggunakan ATU = Antenna Tuner Unit.
Selain berguna untuk penyesuai impedansi antenna kita yang nggak matched (biasanya antenna multiband) ke RIG kita, ATU pada dasarnya juga sebuah filter pasif, sehingga mampu meredam frekuensi harmonic.
5. Naikkan antenna OM, lebih tinggi dari antenna TV tetangga!
Kebanyakan HAM yang memiliki tower tinggi memiliki 2 keuntungan sekaligus. Pertama adalah performansi antennanya akan optimum dan kedua adalah mengurangi interference ke Antenna TV tetangga. Biasanya antenna TV hanya memiliki ketinggian sekitar 6 meter.
6. Pastikan pancaran anda tidak over modulated!
Over modulated terjadi karena sinyal dari microphone terlalu besar, sehingga menimbulkan 2 masalah serius: pertama adalah kualitas modulasi tidak linear, kedua sinyal yang over modulated akan cenderung memiliki frekuensi harmonic yang sangat banyak, akibatnya akan bisa menjadi biang interference ke TV tetangga.
7. Pastikan LPF RIG anda masih dalam kondisi OK !
Blok LPF = Low Pass Filter ini berada tepat setelah RF Power Amplifier, fungsinya jelas untuk meredam frekuensi harmonic dan memastikan sinyal teradiasi hanya pada frekuensi tertentu.
OM bisa melihat blok diagram ini pada box RF Amplifier FT-80C, harus dibuka dulu. Biasanya ada 5/6 kanal, untuk frekuensi CB 27MHz pada blok LPF terakhir. Pastikan tidak ada kapasitor dan/ atau lilitan yang gosong (hitam).
Sebab bila FT-80C kita dibeli dalam kondisi second, kita tidak tahu persis sejarah pemakaian radio tersebut, bisa jadi kebiasaan pengguna terdahulu memancar dengan tenaga melebihi batas power tertinggi LPF, sehingga terbakar.
Bila ternyata OM menemui indikasi rusak-nya di LPF, maka segera ganti dan perbaiki, sebab bila tidak ia tidak hanya menyebabkan bocornya frekuensi harmonic, namun lebih gawat lagi membuat impedansi ke output transistor final tidak lagi mendekati 1:1, sehingga akan cepat panas dan tentu akan cepat merusak transistor final.
8. Ganti TV Tetangga Anda … hehehe, bukan guyon tapi serious nic !
Alkisah saya punya salah seorang rekan CB-er, ia juga memiliki masalah serupa dengan OM, namun hanya 1 tetangga yang terinference pancaran dia, sementara tetangga yang lain cool-cool saja.
Akhirnya dia nekat mengganti TV tetangganya tersebut dengan TV yang branded dan baru, masalah selesai … kesimpulannya, TV tetangganya tersebut rangkaian BPF = Band Pass Filter-nya dibawah spesifikasi, jadi cenderung menerima semua band, termasuk frekuensi interference rekan saya tersebut.
9. Ganti RIG anda …
Ganti dengan new branded, yang sudah berteknologi bagus … hehehe
10. Tips terakhir …
Tetap jaga hubungan baik dengan tetangga, jangan sampai hobby kita mengganggu hobby mereka, tunjukkan bahwa Amatir memiliki skill dan pengetahuan untuk mengoperasikan perangkatnya dengan "clean" … hehehe
OK, OM have a nice day … semoga problem OM terselesaikan.
73 de YD1CHS – Cholis
December 30, 2009 at 12:46 am
armia
SELAMAT ATAS KEBERHASILAN ANDA. JANGAN LUPA KE – EMAIL miaydcmm@yahoo.co.id
January 2, 2010 at 2:54 am
Sugiyanto,S.Pd.M.Pd (Yd3PMF)
sukses untuk anda semoga rajin ber experimen
January 8, 2010 at 7:58 am
YD1CHS
Dear OM Armia,
OM maksudnya jangan lupa ke email maiaydcmm@yahoo.co.id … apa yaa, please pencerahanya yaa …
Regards
YD1CHS
January 8, 2010 at 7:59 am
YD1CHS
Dear OM Sugiyanto, S.Pd., M.Pd.
Thanks berat atas kunjungannya di blog sederhana ini ????
Regards
YD1CHS
January 9, 2010 at 2:40 pm
Rochim YD2KFA
SUKSES SELALU………BOSSSSS ,.
January 29, 2010 at 10:54 am
Dedi Suhendi
Dear OM Cholis, YD1 CHS
Semoga sehat & sejahtera selalu menyertai anda seluarga…
Saya tertarik dengan berbagai tulisan artikel anda di internet Blog anda dan saya koleksi sampai saat ini.
Saya merupakan AR baru dan saat ini sedang nunggu IAR Call Sign keluar ikut ujian 2009 angkatan 53 si Seklok Wil Cibeunying,posisi saya di Bdg utara tepatnya di belakang kampus Unpar.
Rencana saya mau naikan antena Windom yang OM tulis di Blog,dengan rumus yang OM kasih saya rencanakan frek kerja di HF 3,800 Mhz sehingga didapat hasil sbb : Bentangan L (Long) 24m & L (Short) 13,5m dengan tinggi feed point 12m dr permukaan tanah, karena keterbatasan lahan karena lahannya abis pake kamar kost-an maka antena saya pasang sbg inverted ‘V’ (tiang sbg feed poin ada di lantai 2 lantai dak jemuran). Ada hal2 yang ingin saya tanyakan sbb :
1. Untuk bentangan radiator kawat panjang 24m,apa bisa di pasang secara zig zag karena hanya bisa ngebentang +/- 14m, untuk bentangan radiator kawat pendek yang 13,5m nggak ada masalah.
2. Pemakaian Balun 4:1 langsung dipakai tanpa melalui pengetesan dulu,apa ada pengaruhnya ke antena?
3. Saya memakai pesawat FT-80C Yaesu sama seperti OM punya,bagaimana cara ngesetnya pada saat saya pertama kali nge SWR antena tsb,apa yang perlu diatur di tombol2 pesawat tsb.
Vol AF dan Drive di pesawat 80C bagaimana posisi yang baik untuk menghasilkan modulasi yang bagus,kencang.
4. Saya pernah monitor ketika OM QSO muncul di frek 3,850 kualitas modulasi nya clear & loud kenceng, apa OM memakai alat tambahan di 80C-nya sehingga modulasinya seperti itu.
5. Saya pakai SWR merk Maldol asli keliatannya.
Sekian dulu OM dari saya sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas pencerahannya semoga OM nggak bosen2 nya jawabnya,dan saya monitor terus di frekwensi.
Wasalam,
Dedi Suhendi
(Calon Amatir Radio 2009)
January 29, 2010 at 11:20 am
Herman
Kapan cerita mengenai Mode PSK-31 dan RTTY, biar saya juga ngerti OM.
Salam dari Sidoarjo-YD3CTE / Herman
January 30, 2010 at 3:29 pm
YD1CHS
Dear OM Dedi,
Salam kenal OM … saya coba untuk meresponse pertanyaan OM dengan IMHO = In My Humble Opinion, mungkin Rekan lain bisa memberikan masukan yang lebih OK …
1. Untuk bentangan radiator kawat panjang 24m,apa bisa di pasang secara zig zag karena hanya bisa ngebentang +/- 14m, untuk bentangan radiator kawat pendek yang 13,5m nggak ada masalah.
YD1CHS says:
Saya kira no problem OM, soalnya punya saya yang radiator pendek juga bentuknya tidak lurus, namun nerjang genteng. Asalkan OM menggunakannya dengan Z-Matcher saya kira ia akan mampu membuat SWR-nya bersender mendekati 1:1, yang jelas pasti pola radiasi antenna akan berubah.
2. Pemakaian Balun 4:1 langsung dipakai tanpa melalui pengetesan dulu,apa ada pengaruhnya ke antena?
YD1CHS Says:
Asal yakin sudah OK, saya kira nggak papa … hehehe
3. Saya memakai pesawat FT-80C Yaesu sama seperti OM punya,bagaimana cara ngesetnya pada saat saya pertama kali nge SWR antena tsb,apa yang perlu diatur di tombol2 pesawat tsb.
Vol AF dan Drive di pesawat 80C bagaimana posisi yang baik untuk menghasilkan modulasi yang bagus,kencang.
YD1CHS Says:
Cara setting atau tunner SWR, yaitu set mode ke CW atau AM, lalu naikkan drive sdikit saja, asalkan sudah bisa membuat gerakkan di jarum SWR Meter, namun jangan lama-lama lho yaa … hehehe
Cara Setting supaya modulasi SSB kencang yaa, biasanya saya menempatkan drive di jam 9 (sebenarnya drive ini di SSB tidak berpengaruh banyak), nah lalau Mic gain disesuaikan agar jarum VU lincah bergerak, biasanya di jam 10 s/d 12, minta report dari stasiun lawan apakah modulasi kita sudah bagus dan tidak pecah, nah itu yang terbaik.
4. Saya pernah monitor ketika OM QSO muncul di frek 3,850 kualitas modulasi nya clear & loud kenceng, apa OM memakai alat tambahan di 80C-nya sehingga modulasinya seperti itu.
YD1CHS Says:
Nggak OM, saya hanya menggunakan mic standar Yaesu FT-80C, kadang pakai mic FT-180A, yaa itu tadi diatur-atur sambil minta report dari rekan/ lawan bicara terjauh kita … nah kita tandai dimana ia paling bagus … sangat mudah kan? hehehe …
5. Saya pakai SWR merk Maldol asli keliatannya.
YD1CHS Says:
Hehehe … semoga OM …
Pastikan, sebab SWR yang tidak bagus, taruhanya di RIG kita …
OK OM Dede, selamat bergabung di komunitas HAM Indonesia dan International, … buktikan bahwa kegiatan HAM tidak melulu hura-hura dan buang-buang waktu, tapi sebuah hobby yang bermanfaat untuk orang sekitar … hehehe, … selamat !!!!
Have a nice day,
YD1CHS
January 30, 2010 at 3:32 pm
YD1CHS
Dear OM Herman YD3CTE di Sidoarjo,
Salam kenal, saya dulu juga di Sidoarjo tinggalnya, yaitu di Perumahan MUtiara Prima Raya Candi Sidoarjo … semoga kondisinya saat ini makin baik dan bertambah baik. Amin.
Tentang PSK-31 dan RTTY, saya menganggap teman-teman pasti wis podho tahu kedua jenis modulasi tersebut, namun InsyaAlloh akan saya tuliskan disini untuk sharing dan encourage Rekan HAM lain supaya bekerja di mode yang sangat efisien tersebut.
Thanks masukkannya … and have a nice day,
Regards
YD1CHS
February 22, 2010 at 10:17 pm
Gunsa
Om Cholis
Kapan mau nulis antena 8 EH nya
Bagus mana 8 EH dengan windom new carolina nya
February 23, 2010 at 6:49 am
YD1CHS
Dear OM Gunsa,
Maksudnya antenna EH yaa? saya sudah buat konstruksinya di-QTH, namun karena belum punya antenna analyzer, saya kesulitan untuk matching-nya, lalu saya pending dulu project tersebut.
Namun, dengan tanpa eksperimenpun, bila dibandingkan dengan New Carollina Windom (NCW), pasti performansi EH Antenna jauh dibawahnya. Karena NCW adalah full-sized antenna, sementara EH adalah sebuah bonsai antenna yang ukurannya habis-habisan diperkecil.
Yang jelas Full-Sized antenna, apapun bentuknya, efisiensinya akan lebih besar dibandingkan dengan antenna bonsai, juga, apapun bentuknya.
Demikian OM pendapat saya,
Regards
Cholis Safrudin – YD1CHS
March 2, 2010 at 3:40 am
gunsa
OM Cholis.
Terimakasih tulisannya tentang Windom ,membuat saya tersemangati untuk mencari data dan membuat atntena HF New Windom Carolina yg pendek untuk di sesuaikan dengan 20 x18 m. Dan ternyata lumayan untuk band 7,10 ,14,20,28 SWR nya lumayan rendah 1,1-1,2 :1.Tapi di 80 SWR nya ngajeplak harus pakai tuner.
Saat YD saya beraktivitas dan mengumpulkan QSL Card memakai antena Sloper yg niatnya tadinya untuk membuat inverted V,tapi lahan kurang jadi antena yg sebelah saya colapskan ke bawah ,heheh.Sloper sloper-an
Dan yg menjadi pemikiran saya apakah Windom 80 keatas ujung ujungnya dapat ditekuk /digantungkan biar panjang antena keseluruhan lebih kurang 20-24 m,tanpa mengurangi performance antena.
Yg kedua kapan propagasi akan baik untuk DX
Terimakasih
March 2, 2010 at 10:13 am
YD1CHS
Dear OM Gunsa,
Selamat eksperiment OM telah berhasil …
Saya pernah melihat konfigurasi Windom dengan kedua ujung ditekuk kebawah dalam rangka menghemat space, namun saya belum mencobanya sendiri, karena saat ini antenna saya tergelar via lahan kosong dibelakang saya, Alhamdulillah samapi saat ini belum ada issue penggusuran antenna saya, jadi saya happy-happy saja dengan antenna ini … hehehe.
New Carollina Windom saya dengar-dengar memiliki performansi lebih bagus untuk DX-ing, karena memiliki beberapa jengkal radiator vertikal, walaupun ukurannya lebih kecil dari full-sized Windom, saya juga belum pernah mencobanya sendiri, namun berdasarkan info dari Rekan-rekan saya via email, laporan mereka sangat menjanjikan.
Lalu untuk pengalaman DX-ing, saya masih terbatas digimode, memang saya malas untuk rag-chewing dengan bahasa Inggris, nggak fasih blas soalnya … hehehe.
Best Regards
Cholis Safrudin
March 4, 2010 at 9:35 am
budi guru
mas aku tolong dikirimin skema pll untuk di 80m dengan if 9,7 mhz
March 9, 2010 at 11:29 am
YD1CHS
Dear OM Budi Guru,
Skema PLL dalam blog ini dengan judul tulisan Modifikasi FT180A #2 bisa digunakan untuk keperluan OM, tinggal ditunned untuk berosilasi di f = 9.7 – 3.7 = 6 MHz (rangkaian tetap sama nggak berubah OM Budi).
Have a nice day,
Best Regards
March 19, 2010 at 7:12 pm
Tyo
Om Cholis, yang punya blog kecil yang isinya luar biasa.
Saya ada beberapa pertanyaan mengenai antena, mudah -mudahan om bisa memberikan pencerahan.
Antena Windom apabila memakai feeder twin-lead 300, dengan ketinggian feedpoint yang berbeda apakah akan berpengaruh pada impendansi antena?
Saya punya dua potongan kabel twin-lead, yang satu enam setengah meter dan satunya lagi delapan meter. apakah cukup buat feeder antena Windom?
Bila dibandingkan dengan antena open dipole ukuran normal khususnya di band 80 meter, bagus mana dengan antena Windom.
Sebenarnya untuk antena open dipole, maupun antena yang menggunakan kawat bentangan yang panjang, kabel penyalur yang digunakan seharusnya kabel jenis apa? Coxial Apa Twin-lead?
Terima kasih.
March 20, 2010 at 9:14 am
YD1CHS
Dear OM Tyo,
Betul … antenna Windom dengan ketinggian berbeda memiliki impedansi berbeda : sesuai dengan yang dilaporkan oleh salah seorang AR yang mengamati gejala ini adalah OM. G.E. Buck Roger Sr. (4KABT), ia mengatakan bahwa pada ketinggian feedpoint antara 6-12meter impedansi antenna sekitar 200 Ohm balun yang cocok adalah 4:1, ketinggian 12-16meter impedansinya 250 Ohm balun yang cocok adalah 5:1, dan ketinggian 16-21meter impedansinya 300 Ohm balun yang cocok adalah 6:1.
Antenna Windom Vs Dipole
Perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa Antenna Windom didesain tujuannya adalah untuk mendapatkan sebuah antenna multiband, sehingga performansi dimasing-masing band tidaklah terlalu penting, justru coverage di beberapa band dengan satu buah antenna dan satu buah feeder itu yang paling diperhitungkan.
Jadi, IMHO untuk mono-band 80M, saya lebih memilih full-sized dipole, dibandingkan dengan Antenna Windom. Namun, dalam hal pemakaian di beberapa band, tentu Windom adalah jawabannya, lebih murah, cukup ditamhin antenna tuner saja.
Antenna bentangan kawat macamnya banyak sekali, untuk antenna 1/4 lambda misalkan full-sized dipole tentunya coax 50 Ohm (RG-8 atau RG-58) lebih cocok digunakan, karena impedansi full-sized dipole sekitar 70-an Ohm, cukup dekat dengan coax dimaksud. Nah, bila OM ingin pola radiasi tidak rusak, maka perlu ditambahkan sebuah Balun 1:1 untuk menyesuaikan antenna yang balanced dengan kabel transmisi yang un-balanced.
Untuk antenna bentangan kawat long wire, sepertinya twin-lead lebih baik digunakan, karena biasanya impedansinya lebih tinggi dibandingkan dengan antenna resonan hertzian diatas.
Masalah baik tidaknya sebuah saluran transmisi, adalah memenuhi 2 hal yaitu :
1. Impedansinya matched
2. Redaman per-meter-nya kecil
Demikian OM Tyo, semoga membantu.
Best Regards
Cholis Safrudin YD1CHS
March 21, 2010 at 7:38 pm
Tyo
Terima kasih om Cholis. penjelasannya sangat banyak membantu.
July 19, 2010 at 8:09 pm
Paimin
Salam kenal,,nyeting antena tuner (daiwa 419)terhadap rx gimana ya,,kasih contoh pd frek 11mhz,,matur tankyu
July 25, 2010 at 7:10 am
YD1CHS
Dear OM Paimin,
Weleh saya belum berhasil download manualnya euy … hehehe
Regards,
Cholis S – YD1CHS
July 26, 2010 at 8:28 am
Bobby
Salam hormat OM Cholis,
Saya juga berniat membangun antena seperti Om Cholis buat karena lahan di tempat saya yang tidak simetris (memanjang ke belakang) karena itu menurut saya antena ini mungkin bisa memenuhi kebutuhan akan keterbatasan lahan. saya sudah ada balun dengan merk kenpro 1:4 tetapi saya bingung dalam penempatan short dan long radiator. pada balun ada kutub 1 dan kutub 4 kemudian pada kutub mana penempatan short dan long radiator ? kalo saya lihat di balun anda long radiator dapat kutub 4 dan short radiator dapat kutub 1, apakah benar penilaian saya ? terima kasih atas panduan pembuatan windom antena ini.
July 27, 2010 at 3:54 pm
YD1CHS
Dear OM Bobby,
Kalau dilihat berdasarkan schematic balun 1:4 diatas, memang benar statement dari Om Bobby.
Regards,
Cholis Safrudin YD1CHS
July 30, 2010 at 7:51 am
Bobby
Dear Om Cholis,
Terima kasih atas informasi nya, semoga suatu saat kita bisa QSO di band HF. Om Cholis biasa standby dimana ? Sekalian ya Om saya minta manual dan schematic dari Yaesu FT180,saya kebetulan dapat radio tersebut tetapi masih kosong belum diisi kristal maupun dikasih PLL.
Sekali lagi terima kasih. Dear Bobby
December 18, 2010 at 7:39 pm
iwanez
Dear Om cholis,salam kenal,saya mau bangun antena untuk yaesu system 600 saya,maunya sih maen di 80 meter,tapi nggak pake tunner berhubung belum punya,..aman nggak yaa…???
terima kasih.
December 29, 2010 at 1:52 pm
YD1CHS
Dear OM Iwanez,
Aman OM asalkan SWR antenna yang OM bentang cukup aman dibawah ratio 1:2. Tunner biasanya dipakai kalau kita ingin bekerja diluar band resonansi antenna kita.
Penggunaan Tuner akan mengintroduction loss daya, jadi bila antenna udah kondisi matched mending nggak perlu pakai tuner, supaya power yang dipancarkan antenna optimum.
Regards,
Cholis Safrudin
January 2, 2011 at 9:35 pm
herry
Dear OM Cholis…
Sekian lama baca2 tulisan Oom Cholis…baru skrng brani bertanya. Jd mohon maaf klo pertanyaannya gak karu2an…Hehehehe…
Sy tertarik dg Windom Antenna mengingat coverage band-nya yg sangat lebar [3-30MHz]. Pemasalahnnya adlh lahan yg sangat2 sempit -bisa dibilang tdk punya lahan- ttp di depan rumah ada 2 pohon yg berjarak +/- 10m. Pertanyaan saya : bisakah sisi pendek saya turunkan sedemikian rupa sehingga hmpir menyerupai inverted L.
Atau mngkin oom cholis pnya skema antenna inverted L coveragenya lebar tp cukup pendek [sy ingin memanfaatkan pohon2 tersebut]
January 4, 2011 at 8:19 am
YD1CHS
Dear OM Herry,
Sebenarnya antenna apapun bisa kita manfaatkan untuk mentransmisikan sinyal kita, asalkan kita menggunakan bantuan ATU (Antenna Tunning Unit), misalnya Z-Matcher … walaupun kita menyadari dengan menggunakan ATU maka terjadi penurunan efisiensi pancaran, saya kita no problem, yang jelas problem utama kita yaitu limmited space telah dapat dia solusikan.
Jadi, nggak perlu khawatir, tidak ada yang sulit dalam membuat antenna, yang penting kita adaptasikan dengan ATU. Antenna saya juga saya pakai bersama dengan ATU, dan saat ini saya merasakan nyaman-nyaman saja. Untuk komunikasi phone saya biasanya di 80M dan 40M, sementara komunikasi digital 40M – dah bisa DX.
Demikian, have a nice day OM.
Regards,
Cholis Safrudin YD1CHS
January 4, 2011 at 9:55 am
candra
Dear Om Cholis
dah lama ga buka nie ada yg baru ngga” nie om…tentang bitx,…
January 22, 2011 at 9:25 am
YD1CHS
Dear OM Candra,
Kalau lihat BITX terakhir masih versi 3 tuh, modified by Sunil, tnx.
February 9, 2011 at 12:31 pm
wiro
OM Cholis, bgmn caranya mengetahui BALUN kita telah SEMPURNA? Mhn pencerahan hatur nuhun.
March 16, 2011 at 6:35 pm
rudik
Dear Ohm Cholis,
Lagi lagi pertanyaan bodoh, Sebenarnya, mana yang benar sih antena terhubung (inner sama ground, meskipun itu terhubung melalui balun), apa antena tidak terhubung, misalnya open dipole dengan ujung inner disambung dengan satu kabel, dan ujungnya ke ground, tanpa ada hubungan apapun dari kedua elemen/kawat pemancar tersebut…apakah keduanya valid?
mohon jawaban praktis saja, terima kasih.
March 16, 2011 at 8:39 pm
rudik
Saya googling tentang HF antenna dan mendapatkan cerita lucu disini
,
http://home.datacomm.ch/hb9abx/kondition-e.htm
Dalam opiniku, kok bertolak belakang dengan semangat Amateur Radio sendiri….
Thanks OM Cholis.
March 18, 2011 at 1:26 pm
YD1CHS
Dear OM Wiro …
Ditest saja OM … Caranya … mudah kok … yang penting ketahui dulu prinsip kerja dan fungsi balun …
Fungsi utama balun yaitu mentranslasikan harga impedansi sebuah beban, ke impedansi tertentu, biasanya kelipatan 1:1, 1:4, dll. OK, dech misalkan kita punya balun 1:4, artinya ia bisa mentranslasikan nilai balum ke 1/4-nya atau sebaliknya 4X-nya. Jadi misalkan output transmisi kita sebesar 50 Ohm, maka pada sisi satunya, impedansi tersebut seakan-akan sebesar 200 Ohm. Hati-hati jangan terbalik memasangnya, alih-alih pengen mendapatkan impedansi 200 Ohm, malah dapatnya 12.5 Ohm … berabe kan … hehehe.
OK, berikutnya … balun yang baik harus memiliki rentang/ bandwidth yang lebar.
OK, dari hal tersebut diatas, yang harus diuji adalah :
a. apakah translasi ke impedansi tertentu tersebut sudah OK?
b. apakah BW-nya lebar.
Mari kita ambil contoh balun 1:4. Dalam melakukan pengujian bisa menggunakan Antenna Analyzer atau Cukup dengan SWR Meter plus TRX saja. Kita asumsikan gunakan SWR + TRX.
1. Setup TRX – SWR Meter – Balun 1:4 – Resistor 200 Ohm (Watt Gedhe)
2. Pilih frequency kerja, dengan power kecil CW, perhatikan SWR, seharusnya SWR 1:1 atau mendekati. Bila nilainya tidak mendekati 1:1 berarti balun tidak benar perbandingannya
3. Untuk melihat BW-nya, lakukan prosedur pengukuran yang sama dengan cara diatas, lakukan untuk beberapa frekuensi berbeda. Catat, kapan SWR akan mendekati 1:2, nah rentang frekuensi dg SWR dibawah itu adalah daerah operasinya
Well … semoga berguna …
Regards,
Cholis YD1CHS