Sudah lama saya tidak sharing disini, walaupun ada beberapa hal yang bisa dituliskan dalam blog ini. Hari ini puasa Ramadhan hari ke-5 bertepatan dengan hari Minggu, untuk mengisi waktu saya akan mencoba sharing sebuah proyek sederhana menggunakan mikrokontroler AVR, yaitu Simple AVR LCD Voltemeter dengan menggunakan tampilan LCD berbasiskan mikrokontroler AVR ATMEGA-16.
Tidak biasanya saya menggunakan mikrokontroler jenis ini, namun beberapa waktu yang lalu, saya mulai tertarik mencobanya dengan salah satu alasannya adalah flash memory yang besar, jumlah pin yang banyak, jumlah port ADC yang banyak dan harganya cukup murah. Dengan kata lain rasio antara fitur yang ditawarkan AVR ATMEGA-16 terhadap harganya melebihi mikrokontroler buatan yang lain. Tidaklah salah bila mikrokontroler jenis ini paling banyak digunakan Rekan-rekan Mahasiswa dalam proyek tugas akhir mereka.
Untuk bermain-main mikrokontroler ini kita bisa membuat sendiri downloader menggunakan RS232 serial atau paralel, skema bisa dicari dengan mudah di Internet, salah satu rekomendasi saya adalah di http://www.electronics-diy.com/avr_programmer.php karena kesederhanaanya. Namun perlu menjadi perhatian disini adalah, downloader tersebut dapat bekerja dengan baik pada RS-232 serial tanpa menggunakan USB-to-Serial adapter. Walaupun penggunaan USB-to-Serial Adapter juga masih dapat digunakan, namun akan dirasakan delay penulisan yang sangat lambat. Pengalaman saya dalam mencobanya adalah, untuk mendownload program LCD Voltmeter ini ke ATMEGA-16 dibutuhkan waktu hampir 1/2 jam … wow hihihihi.
Karena sedang malas untuk membuat development board sendiri, maka dalam bermain-main dengan AVR ini saya langsung membeli produk jadi, anda dapat menemukan beberapa merek produk di Pasar dan saya kira semuanya dapat digunakan dengan harga bersaing. Kebetulan di Jaya Plaza tempat saya membelinya terdapat 2 jenis produk ini. Namun demikian, sebenarnya membuat development board tersebut di atas cukuplah mudah dilakukan, bekalnya hanyalah ketersediaan waktu dan sedikit kesabaran saja.
Karena saya tidak mau dibuat pusing berurusan dengan bahasa pemrograman tingkat rendah (assembly), walaupun banyak yang menyebutkan kelebihan diantaranya adalah: ukuran file *.hex yang kecil, kecepatan lebih baik dan masih banyak lagi, namun saya saat ini tidaklah terlalu sensitif dengan hal tersebut. Karena isu-isu tersebut bukan menjadi kendala buat saya dalam bermain-main dengan AVR saat ini. Saya hanya ingin menunjukkan, betapa mudah dan hematnya waktu yang kita luangkan untuk membuat sebuah proyek sederhana, namun dengan algoritma yang cukup rumit. Untuk belajar dan mendapatkan compiler bahasa pemrograman tingkat tinggi anda dapat mencarinya di Internet, diantaranya yang saya ketahui adalah menggunakan bahasa BASIC, salah satu produsen software mengemasnya dengan merek jual BASCOM-AVR, silakan lihat di http://www.mcselec.com/ . Kita dapat mendownload program demo BASCOM-AVR dengan fitur lengkap, namun dibatasi besarnya file yang dicompile sebesar 4KB saja, cukup besar untuk digunakan bermain-main dengan si-AVR dalam rangka mengisi waktu senggang di akhir pekan.
Salah satu kelebihan AVR yang saya sukai adalah banyaknya jumlah port ADC dalam satu kemasan ATMEGA-16, yaitu tersedia sebanyak 7 buah port ADC mulai dari PA0 (ADC0) sampai dengan PA7 (ADC7) dan bisa digunakan secara simultan. Dengan harga hanya Rp.52.500 kita bisa mendapatkan itu semuanya, jauh lebih murah dibandingkan dengan jenis mikrokontroler lain yang ada di pasar. Oleh karena itu, proyek pertama ini adalah bertemakan optimalisasi ADC. Saya sebenarnya telah menyiapkan program yang lebih kompleks, bahkan bisa dibilang sangat komplek, yaitu Antenna Analyzer dengan menggunakan fungsi ADC pada ATMEGA-16, software telah rampung 100%, tinggal sisi hardware. Pada saatnya nanti akan saya share juga disini. Pemanfaatkan ADC ini dapat digunakan dalam berbagai proyek menarik diantaranya adalah: Voltmeter seperti saat ini, Thermometer, Oscilloscope, Spectrum Analyzer, Antenna Analyzer, SWR Meter, RF Power Meter dan tentunya masih banyak lagi.
Rangkaian proyek ini ditunjukkan oleh gambar di atas. Cara kerja rangkaian sangat sederhana, pertama ADC0 digunakan sebagai input tegangan yang akan diukur. Karena tegangan yang sampai ke ADC0 atau Vs harus < 5 volt (hati-hati bila > 5 volt akan merusak mikrokontroler), maka untuk mendapatkan range pengukuran sekitar Vin 12 Volt, maka diperlukan sebuah rangkaian pembagi tegangan yang dibentuk oleh R1 dan R2, dimana hubungan antara Vs (tegangan masuk ke ADC0) dan Vin (tegangan yang diukur) adalah Vs = Vin * R2 / (R1 + R2). Selain sebagai pembagi tegangan, rangkaian ini juga berguna untuk membatasi jumlah arus yang masuk ke ADC0. Saya mempergunakan R1=18K dan R2=4.7K yaitu nilai-nilai resistor yang umum dijumpai di pasaran, dengan Vin maksimum yang akan saya ukur adalah 12 Volt, maka kita mendapatkan beberapa data teknis sebagai berikut:
- Arus yang melewati ADC0 sekitar = 12 / (18K + 4.7K) = 0.000529 A
- Tegangan Vs maksimum = 12 * 4.7K / (18K + 4.7K) = 2.485 Volt (masih aman dan jauh dari 5 volt)
Karena ADC yang digunakan di ATMEGA-16 berbasiskan kepada 10 bits, maka tegangan 0 volt akan direpresentasikan oleh 0 dan tegangan maksimum 5 volt akan direpresentasikan dengan 2^10 – 1 = 1023. Konsekuensinya, tegangan Vs maksimum di atas akan direpresentasikan dengan = 1023 * 2.485 / 5 = 508. Jadi dalam perhitungan yang dilakukan oleh mikrokontroler nantinya dibutuhkan sebuah faktor koreksi sebesar fc = 12 / 508.
Setelah mendapatkan hasil perhitungan di atas, kemudian angka akan ditampilkan di LCD dengan format “floating point” berupa “##.##” Volt. Perhitungan dan pembaharuan tampilan ini dilakukan setiap 1 detik sekali, sehingga masih mudah diikuti oleh mata telanjang.
Oh yaa, saya juga menambahkan fungsi untuk mengetes tenaga dari battery yang sedang diukur, yaitu bila tegangan Vin nilainya di bawah 10 Volt (dalam angka 12 bits adalah sekitar 430) maka akan ditampilkan peringatan kondisi battery (“BAD”), demikian juga sebaliknya bila battery dalam kondisi bagus akan diberikan keterangan baik (“OK”).
Berikut adalah script dalam BASCOM:
’1. Hardware Configuration
‘—————————————————————————-
$regfile = “m16def.dat” ‘Atmega-16
$crystal = 8000000 ’Xtal 8MHz
’2. LCD & Port Configuration
‘—————————————————————————-
Config Lcdpin = Pin , Db4 = Portc.4 , Db5 = Portc.5 , Db6 = Portc.6 , Db7 = Portc.7 , E = Portc.2 , Rs = Portc.0
Config Lcd = 16 * 2
Cls
Cursor Off
Waitms 500
’3. Print Welcome Messages & Wait until VCO is Steady state
‘—————————————————————————-
Lcd “AVRLCD Voltmeter”
Waitms 100
Lowerline
Lcd “by Cholis YD1CHS”
Waitms 2000
Cls
’4. ADC and Varibles Configuration
‘—————————————————————————-
Config Adc = Single , Prescaler = Auto
Start Adc
’5. Battery’s Power Testing dan Display Into LCD
‘—————————————————————————-
Dim Bat_pow As Word
Dim Bat_fact As Single
Dim Bat_volt As Single
Bat_fact = 12 / 508
Do
Bat_pow = Getadc(0)
Bat_volt = Bat_pow * Bat_fact
If Bat_pow < 430 Then
Lcd “Batt. Power: BAD”
Lowerline
Lcd Fusing(bat_volt , “##.##”) ; ” Volts”
Waitms 1000
Else
Lcd “Batt. Power: OK”
Lowerline
Lcd Fusing(bat_volt , “##.##”) ; ” Volts”
Waitms 1000
End If
Cls
Loop
’6. End of Program
‘—————————————————————————-
End
Berikut adalah source code proyek di atas, mohon ganti ekstensi file dari *.pdf menjadi *.zip
AVR_Simple_VM.zip
Hasilnya … cukup lumayan, bila dikalibrasi dengan digital AVO meter maka telah memiliki nilai pengukuran yang hampir mendekati.
Kesimpulan dari proyek sederhana ini adalah, menggunakan bahasa pemrograman tingkat tinggi untuk mikrokontroler kita dimanjakan dengan waktu yang lebih hemat dan kemudahan yang mengenakkan, … sangat mengasyikkan. Oh yaa, hampir lupa, di dalam simulasi saya menggunakan LCD 20×4, karena yang tersedia dan siap di meja workshop saya adalah LCD 20×4 tersebut.
Have a nice day,
Cholis Safrudin YD1CHS






29 comments
Comments feed for this article
August 18, 2010 at 1:53 pm
Bobby
Nice project OM Cholis, ditunggu untuk project=project selanjutnya (LC meter, Freq meter dll) semoga bisa bermanfaat karya nya OM Cholis. Sekalian Om,apakah anda mempunyai manual book atau skematik dari yaesu ft180? klo ada bisa dikirimkan ke email saya ? terima kasih
August 19, 2010 at 2:58 pm
YD1CHS
Dear OM Bobby,
Thank …
September 7, 2010 at 11:22 am
hem
OM Cholis mulai “selingkuh” dengan ATMEL….
September 14, 2010 at 9:44 am
YD1CHS
Dear OM Hem,
Masalah utamanaya kekurangan “program memory” di 16F88, jadi cari yang ukuran IC-nya mirip namun memory gedhe …. akhirnya jatuh ke ATMEL hehehe
Regards
September 15, 2010 at 12:41 pm
Putut Widodo (YD3DKP)
Dear Om Cholis
Ass Wr Wb
Apa kabar om, sharingnya kali ini sungguh berkesan hehehehe. Dengan menggunakan bahasa basic saya lebih mudah memahami. hehehhe. Wah jadi pengen buka kardus lagi nich, alat2 experimen saya dah tak kemasi. Dan saya berharap keinginan saya dan juga om juhar (YC3TKM) mengenai antenna analyser segera bisa di sharing. Dan semoga menggunakan bahasa basic, biar aku agak mudeng. hehehehe.
Siip Om Cholis, Tks Sharingnya, semoga bermanfaat untuk rekan2 amatir.
Salam’
PUTUT WIDODO
September 15, 2010 at 3:51 pm
YD1CHS
Dear OM Putut,
Hehehe … yaa kadang seorang penghobby itu mencari sesuatu yang sulit, misalkan dengan bahasa assembler. Contoh diatas cuman memberikan gambaran bahwa bagi penghobby yang tidak mau berpusing-pusing dengan assembly bisa menggunakan berbagai pilihan bahasa pemrograman tingkat tinggi misalkan BASIC, PASCAL, C dan sebagainya.
Saya telah mencobanya sendiri, dengan menggunakan bahasa assembly pada PIC16F88 saya membutuhkan waktu jauh lebih lama (sambil pusing-pusing), dibandingkan dengan BASIC dalam membuat firmware antenna analyzer. Saat menggunakan assembly butuh waktu sekitar 3 bulan, sampai akhirnya nyerah karena kehabisan flash program memory di PIC, dengan BASIC ini program dengan fungsi sama bahwa fiturnya lebih banyak bisa selesai kurang dari seminggu … hehehe, tapi butuh memory yang agak gedhe, jadi saya akhirnya “selingkuh” ke AVR ATMEGA.
Monggo dicoba sendiri, dan rasakan bedanya …
Regards,
Cholis Safrudin YD1CHS
September 18, 2010 at 11:10 am
Putut Widodo (YD3DKP)
Dear Om Cholis
Bener om, kadang seseorang memang fanatik dengan bahasa pemrograman tertentu dengan berbagai alasan dan kelebihan tertentu pula. Seperti saya dulu saya dalam membikin aplikasi Inventory ataupun administrasi suka dengan VFP, tapi sekarang lambat laun suka dengan VB dan juga Visual Delphi. karena dengan VFP database/tablenya cukup banyak sehingga tidak bisa simple dengan terlalu banyak file. begitu pula dengan amatir radio, sampai sekarangpun saya mempelajari coding bahasa asembler masih nut-nut di kepala, mudengnya cuma dengan persentase kecil. tapi dengan basic alur program dan codingnya masih sedikit2 bisa memahami. masalah selingkuh dengan AVR ATMEGA ga masalah om, yang penting masih bisa dinikmati para penggemar. hehehehe….sukses terus om.
ditunggu posting analysernya….
September 19, 2010 at 6:45 pm
YD1CHS
Dear OM Putut,
Yap … memang benar OM, beberapa kelebihan assembler dibandingkan bahasa tingkat tinggi adalah:
- Butuh program memory lebih kecil, dimana rata-rata microcontroller hanya punya memory kecil
- Lebih cepat
- Nyeni, Hebat Kalau Bisa, dll … hehehe
Kalau nggak mau pusing-pusing dan memeory bukan issue utama, udah dech pakai bahasa tingkat tinggi saja … hehehe
Regards,
Cholis Safrudin YD1CHS
September 19, 2010 at 8:20 pm
Amin Wibawa-YD2MJR
Wah bagus OM Cholis tulisannya, nambah wawasan kita-kita.Kalo boleh tahu source code untuk Antena Analiser yg memakai BAscom AVR kapasitas bisa brapa KB?Yang pasti kurang dr 4KB ya?Sebab firmware Antena Anliser VK5JST yang tlh dikonversi ke bhs C untuk PIC16f873 lumayan besar selain itu juga susah memahami algoritmanya he..he
Salam,
Amin Wibawa YD2MJR
September 19, 2010 at 8:59 pm
YD1CHS
Dear OM Amin Wibawa,
NO problem OM, kebetulan saya belum test sampai dengan level HW, hanya sampai dengan debugging SW dengan menggunakan masukan buatan yang telah ditentukan besarnya, kemudian dibandingkan dengan hasil perhitungan matematis sesuai formula dan kondisi.
Untuk fungsi dasar saja bisa 4KB, sehingga compiler BascomAVR gratisan tidak lagi support (maks. 4KB).
Regards,
Cholis Safrudin YD1CHS
September 20, 2010 at 10:30 am
Amin Wibawa-YD2MJR
O ya OM Cholis, pd diagram ada trimpot 10k dan tertera Vref, kira2 fungsinya apa OM.Trima kasih pencerahannya.
Salam,
Amin Wibawa-YD2MJR
September 20, 2010 at 1:42 pm
YD1CHS
Dear OM Amin Wibawa,
AREF yaitu berguna sebagai pencuplik tegangan referensi untuk operasional ADC (Analog to Digital Converter). Kita bisa melakukan adjustment, mulai dari 0 Volt sampai dengan 5 Volt maksimum. Misalkan AREF diset 5 Volt, berarti dengan 12 Bits ADC, tegangan 5 volt akan direpresentasikan dengan bilangan integer 1024 dan 0 volt dinyatakan sebagai bilangan integer 0. Bila AREF diset sebesar 4 Volt, maka angka integer 1024 merepresentasikan tegangan 4 volt. Bila ada tegangan diatas 4 volt yang akan diukur oleh ADC, maka hasil pembacaannya akan mengalami error. Jadi AREF diset sesuai dengan tegangan masukan ke ADC maksimum, biasanya sih 5 Volt.
Demikian, semoga lebih jelas.
Regards,
Cholis Safrudin YD1CHS
September 20, 2010 at 6:47 pm
Amin Wibawa-YD2MJR
OM Cholis kalo saya hitung 12 bit ADC rangennya 0 s/d 4096 bukan 1024.
Di Bandung AVR development board hrg berkisar brp OM? Jadi pengin nyobain BASCOM AVR OM. Bikin flip flop he..he
Trima kasih uraiannya
Salam,
Amin Wibawa-YD2MJR
September 20, 2010 at 8:16 pm
YD1CHS
Dear OM Amin,
Sorry saya koreksi kemampuan ADC AVR ATMEGA adalah 10 bits, bukan 12 bits sesuai yang saya sampaikan sebelumnya. Terlalu bersemangat sehingga datanya nggak akurat … hehehe.
Malam ini saya dapat fericlorite dari toko elektronik jadul disebelah, saya tadi sore sudah rendam PCB-nya semoga bisa mencoba HW. Sepertinya lagi males ke Jaya Plaza Bandung untuk belanja komponen, jadi saya akan optimalkan apapun yang ada di junk-box saya …
Sebenarnya paling enak bikin saja sendiri, jauh lebih murah, namun bila pengen menggunakan USB bukannya serial RS232 9 atau 25 pins, yaa beli saja. Sebuah minimum configuration dengan ATMEGA-16 sebagai basisnya cukup mahal OM Rp.250.000,- itu masih belum termasuk USB Programmer, nambah lagi Rp.150.000,-
Sebelum membeli ini, saya memakai RS232 programmer buatan sendiri tidak lebih mahal dari Rp.25.000, dengan software PonyProg. Bisa dipakai untuk memrogram secara Offline ataupun ISP. Dengan menggunakan PC anak saya yang ada RS232 9 pin-nya bisa berjalan lancar, namun ketika saya coba di laptop dengan bantuan USB to Serial converter, tetap bekerja dan mampu memrogram dengan baik, namun waktu yang dibutuhkan sangat luama … hehehe, setelah saya cari-cari penjelasan di NET, rupanya USB to Serial Converter memiliki header bits yang banyak, sehingga ketika digunakan memrogram AVR, justru bit-bit header ini yang menjadi biang kerok. RS232 Programmer plus sebuah Xtal dan capacitor sudah cukup menjadikan sebuah minimum konfigurasi, harganya nggak nyampe Rp.30.000. Bandingkan kalau kita beli diatas, hehehe … karena saya nggak suka memrogram sambil duduk didepan PC, maunya sambil tiduran didepan TV, maka akhirnya saya pilih membeli diatas … hehehe
OM Amin bisa memakai AVR ATMEGA-8, 16 atau 32. Namun kata si penjual, saat ini ATEMGA-8 masih langka dipasaran sehingga pada saat membeli kemarin harganya Rp.45.000,- padahal ketika normal harganya nggak nyampe Rp.20.000. Kalau harganya masih segitu, mending langsung beli aza yang ATMEGA-16 (jangan pakai L dibelakangnya yaa), hanganya bekisar Rp.50.000, namun memory 16MB dan jumlah pin 40-an … muantap tenan OM … hehehe.
Percobaan atau pengembangan firmware bisa dilakukan ATMEGA-16 baru saat ke HW untuk menjaga ukuran tetap kecil baru disesuaikan dengan menggunakan ATMEGA-8, persis yang saya lakukan saat membuat week end project AVR saya.
PIC dan AVR memiliki kelebihan masing-masing, bahasa assembler dan high level programming juga punya kelebihan masing-masing, tinggal kita sesuaikan saja kebutuhan kita … gimana akur kan? hehehe.
Regards,
Cholis Safrudin YD1CHS
September 21, 2010 at 12:06 am
Amin Wibawa-YD2MJR
Wah muantap infonya.BTW mahal juga ya develop. boardnya he..he
Kalo melihat screen capture hasil debugging dan simulasi program yang pernah OM Cholis kirim, terlihat ada variabel Vin, V50 dan Vout, apakah betul untuk formula dan HWnya antena analiser mengadopsi desain VK5JST? Kebetulan saya barusan pas buka2 file VK5JST.
Salam,
Amin Wibawa-YD2MJR
September 21, 2010 at 5:05 pm
YD0NVU
Kang Cholis,
maaf neh OOT,masih adakah artikel “modifikasi bekas power supply PC menjadi power supply utk HAM”,yg Kang Cholis tulis/buat, sy cari di blog ini kok gak ada ya?
thank’s
September 21, 2010 at 5:32 pm
YD1CHS
Dear OM Amin,
Benar, sebenarnya ada 2 jenis yang sedang saya persiapkan, yang pertama adalah menggunakan metode vector analysis (salah satu yang mengembangkan adalah VK5JST), metode ini tidak dapat menampilkan tanda +/- dari nilai reaktansi. Kemudian yang satu lagi menggunakan metode Quadrature Phase Detection (salah satu yang mengembangkan adalah PA1ARE), nah kalau ini bisa menunjukkan tanda +/- dari reaktansi.
Untuk firmware yang telah siap adalah dengan metode Vector Analysis, namun saya mengembangkannya dengan menggunakan AVR ATMEGA, sementara OM VK5JST menggunakan PICAXE dalam projectnya. Note: PICAXE susah didapatkan di Bandung, mungkin di Indonesia juga susah.
Barusan saya mencoba membuat HW, saya mulai dengan bagian VFO, namun masih belum dapat osilasi. Memang rangkaian VFO versi VK5JST agak aneh, tidak lazim seperti VFO-VFO yang biasa digunakan di AR, namun salah satu yang saya suka, ia dilengkapi dengan ALC sehingga amplitudo-nya akan dijaga tetap dalam rentang osilasinya. Sepertinya saya perlu mencobanya terlebih dahulu di Project Board, tadi saya langsung membuatnya di PCB, … hehehe.
Jadi memang benar, file yang saya kirimkan via milist adalah proses debugging, dan formulanya memang mirip dengan yang digunakan oleh VK5JST. Beberapa AR seperti dari Belanda dan Rusia juga ada yang mengembangkan antenna analyzer dengan metode Vector Analyzis ini, sedikit berbeda pada rangkaian VFO dan microcontroller-nya saja.
Demikian OM, Regards.
Cholis Safrudin YD1CHS
September 21, 2010 at 5:37 pm
YD1CHS
Dear OM YD0NVU,
Ada tuh OM, coba di link berikut:
http://yd1chs.wordpress.com/2008/09/24/138v-dari-psu-cpu-138v-from-psu-cpu/
Regards,
Cholis YD1CHS
September 21, 2010 at 9:48 pm
Amin Wibawa-YD2MJR
Om Cholis,
Pada pertemuan 18 September 2010 di QTH pak Adi beberapa waktu lalu pak Solihin mendemokan antena analiser yang juga mengadopsi desain VK5JST. Untuk bagian signal generator dan ALC bisa bekerja baik mulai dari frek 1.5 s/d 30Mhz dengan amplitudo yg relatif stabil.
Karena tampilan pengukuran yang diinginkan hanya SWR dan total impedance maka hasil pengukuran ditampilkan memakai 2 buah VU meter.Untuk memodifikasinya, bagian rangkaian deteksi tegangan Vin, V50 dan Vout diganti memakai wien bridge dan LCD difungsikan untuk frekuensi counter.
Ketika diuji coba cukup bisa membantu dalam menganalisa frekuensi resonant antena , SWR dan impedance antena. Begitu Om Cholis sekedar tambahan info.
Semoga signal generatornya bisa segera bekerja baik OM.
Salam,
Amin Wibawa-YD2MJR
September 22, 2010 at 9:22 am
YD0NVU
Ok Kang Cholis,thank’s link nya.
September 25, 2010 at 8:29 am
YD1CHS
Dear OM Amin Wibawa,
Thanks infonya OM.
Regards,
Cholis YD1CHS
January 3, 2011 at 3:02 pm
Surya
dear mas Cholis
terimakasih udah sharing ilmunya, kalau untuk pengukuran tegangan AC PLN bisa dishare pengalamannya?
salam
surya
January 4, 2011 at 8:30 am
YD1CHS
Dear OM Surya,
Pengukuran tegangan PLN sebenarnya intinya sama dengan pengukuran tegangan DC kecil, namun harus dilakukan beberapa penyesuaian, yaitu:
1. Karena PLN adalah AC, maka perlu dilakukan penyearahan (DC), dimana nilai penyearahan tersebut tentunya harus kita ketahui hubungannya dibandingkan dengan Vmax atau Vmin, nah hubungan tersebut yang nantinya akan dimasukkan ke Microcontroller, dan digunakan sebagai bahan konversi ke nilai yang diukur.
2. Rangkaian pembagi tegangan tetap diperlukan, karena microcontroller maksimum hanya bisa mengukur tegangan DC dari 0 sd 5 Volt saja, jadi kehadiran rangkaian pembagi tegangan sangat penting.
Terus terang saya belum pernah membuat proyek berbasis microcontroller untuk mengukur tegangan AC PLN.
Demikian, have a nice day.
Regards,
Cholis Safrudin, YD1CHS
January 11, 2011 at 5:17 pm
surya
dear mas Cholis
terimakasih banyak atas penjelasannya, saya coba cari-cari rangkaian stepdown dan recti klu gtu
January 20, 2011 at 9:41 am
kris
Dear,Pak cholis saya baru saja mencontoh program AVR voltmeter,,,tapi saya menggunakan ATMEGA8535 dan LCD16x2,tapi kok enggak muncul tulisannya alias kosong padahal di BASCOM simulator sudah jalan mohon bantuannya dan nilai 430 untuk display batt bad di dapat dengan rumus bagaimana ya Pak.terima kasih
January 22, 2011 at 9:04 am
YD1CHS
Dear OM Kris,
Wah kalau untuk jenis uC yang lain, selain ATMEGA saya belum mencoba yaa, mungkin *.HEX hasil compiling-nya berbeda OM, nah itu kayaknya musti diulik di BASCOM-nya …
Regards
July 13, 2011 at 5:24 pm
hilman herdiana
kalo buat pengukur tegangannya d kaki no brapa??
August 22, 2011 at 6:54 am
YD1CHS
Hi OM Hilman Herdiana,
Mohon maaf yaa, reply saya bukan main lambat, karena kesibukan luar biasa beberapa bulan terakhir yang tidak dapat saya hindari.
Untuk ATMEGA-8 Pin ke-23 sampai dengan ke-28 dapat difungsikan untuk mengukur tegangan masuk (max 5Vdc), karena keenam pin ini dapat difungsikan sebagai ADC (Analog to Digital Converter), namun bukan sebaliknya lho dari Digital ke Analog …
Demikian OM please CMIIW,
Regards, Cholis Safrudin YD1CHS
May 30, 2012 at 4:16 am
urang3rut
Kang kalau konversi 10V diperoleh bit 403, bagaimana rumusnya?