YB0KO

YB0KO

Bila saya menyebutkan sebuah callsign YB0KO pastilah Rekans dapat menebak siapa Beliau, sudah tidak asing lagi ia adalah salah satu tokoh antenna yang sangat dikenal dikalangan Radio Amatir Indonesia, dengan nama lengkap Bambang Soetrisno atau biasa dipanggil OM Bam. Rekans dapat membaca puluhan/ ratusan tulisan Beliau seputar per-antenna-an, khususnya untuk aplikasi Radio Amatir di buletin ORARI BEON (sudah tidak terbit) dan QTC ORARI yang baru saja mengawali edisi perdananya.

Beberapa hari yang lalu saya sempat berdiskusi dengan Beliau via email, dan pada kesempatan itu Beliau menitipkan 2 (dua) buah tulisan terbarunya, untuk disharing via blog sederhana ini. Dengan satu tujuan, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan sambil ber-“amal-ilmiah dan ilmi-amaliah”, demikian tutur Beliau. Untuk memenuhi amanat tersebut, berikut saya tuliskan saduran sederhana, terkait dengan kedua tulisan tersebut.

TTE T-17A Dual Band HF Transceiver Product Review

TTE T-17A

TTE T-17A

Seiring dengan direlease-nya PERMENKOMINFO 33/2009 menggantikan KEPMENHUB 49/2002 yang mengatur tentang kegiatan Radio Amatir Indonesia, maka banyak sekali perubahan positif yang kita nikmati, diantaranya adalah penambahan priviledge bagi pemegang IAR tingkat Siaga dan Penggalang, Penambahan BW pada beberapa alokasi band, persyaratan ujian, dan masih banyak lagi. Misalnya Tingkat Siaga/ Novice dengan callsign prefix YD & YG bertambah priviledgenya untuk bekerja pada mode phone di band HF 80M dan 40M, dimana sebelumnya hanya 80M saja, dengan persyaratan daya maksimum dari hanya 10W menjadi 100W, secara otomatis akan memberikan kesempatan baru bagi tingkat ini untuk lebih optimum menggunakannya untuk berkomunikasi Nasional maupun Internasional.

Nah … salah satu kendala utama adalah perangkat HF yang ada dipasaran rata-rata harganya masih cukup tinggi. Pada ulasan pertama YB0KO ini, Beliau mengenalkan bahwa HF transceiver tidak harus mahal, kita dapat memenuhinya dengan membuat sendiri atau bagi yang ingin instant dapat langsung membelinya dengan harga yang tidak harus mahal. TTE T-17A Dual band HF transceiver, yang merupakan besutan dari AR Indonesia kawayan dan tidak asing lagi yaitu OM Supardi YB3DD, seiring dengan waktu telah terbukti (field proven) mampu bersaing dengan HF transceiver pabrikan terkenal yang ada. Hal positif yang bisa diambil dari perangkat buatan anak negeri disini adalah: Value (rasio antara harga dan performansinya), Kebanggaan (pride), serta kemudahan dalam trouble shooting (ketersediaan spare-part lokal) dapat dikatakan lebih unggul.

Ulasan YB0KO lebih lengkap dapat didownload di-link berikut:

PRODReview – TTE T17A

Cobra Antenna W4JOH

Cobra Ant

Cobra Ant

Yaitu sebuah antenna small-sized dipole yang dikonfigurasi dalam bentuk linear-loaded dipole (doublet), untuk mensolusikan kebutuhan antenna sistem bagi Rekan-rekan AR yang kebetulan bertempat tinggal pada lokasi dengan lahan kecil.

Dengan gaya bahasa khas YB0KO, Beliau menuturkan bahwa antenna ini pertama kali diproposed oleh seorang Raymond Cook (W4JOH) pada tahun 1994 di majalah 73 edisi bulan Juni. Panjang antenna ini lebih pendek dibandingkan dengan antenna HF terkenal lainnya seperti G5RV dan the mistery antenna W5GI, misalnya untuk coverage 40M-10M (+/-43 meter) dan 80-10M (+/- 23 meter). Satu hal yang menarik dan berbeda dengan jenis linear-loading doublet yang sebelumnya kita kenal, jarak antar radiator sangat kecil, sehingga dapat dibuat dari seutas kabel 3 konduktor, namun sayangnya kabel ini masih sulit dijumpai di Indonesia. Namun jangan khawatir, OM YB0KO memiliki trik untuk membuatnya dengan bahan lokal, tertarik silakan download ulasan Beliau disini.

antena COBRA

Demikian Rekans, semoga bermanfaat dan have a nice experiment.

Regards

YD1CHS